Eternally Mate Chap 1

req-eternally-mate

Eternally Mate

Part 1

Author             : ClaRivaLice

Cast                 : Kris * Shin Ah Ri

Sehun * Hwang Mi So

Chanyeol * Kim Hyun Mi

Other Cast       : Kai, Luhan, Lay, Exo member

Genre              : Fantasy Romance, Friendship, liltle Revenge

Credit              : http://flwrblossom.wordpress.com

Length             : Series, Chapter

Rating             : 15

*Kim Hyun MI POV*

Hari ini benar-benar melelahkan karena jadwal kuliah begitu padat. Kulangkahkan kaki melewati lorong-lorong yang sepi akan penerangan ini, bukankah Seoul termasuk kota yang maju. Bagaimana bisa masih saja ada jalan yang miskin akan penerangan. Samar-samar aku melihat sesosok namja yang berlawanan arah denganku, Namja bertubuh cukup tinggi dengan langkahnya yang gontai. Aigoo, pasti itu Ajushi hidung belang yang sedang mabuk. Saat keadaan seperti ini, yang harus dilakukan adalah pura-pura tidak melihat apa-apa..

Aku mencoba berjalan santai melewati Ajushi itu yang sekarang sudah terduduk dipinggir jalan. Astaga pasti dia benar-benar mabuk, sampai tidak kuat untuk berjalan kerumah.

Setelah jarak kami cukup dekat, entah kenapa justru aku malah tertarik ingin melihat sebenarnya apa yang terjadi dengan ajushi ini.

“Agashi,,tolong aku” aku menoleh kearah sumber suara. Kenapa suara Ajushi ini terdengar parau, ah tentu saja parau, dia kan sedang mabuk. Tapi setelah ku perhatikan dengan seksama ada beberapa luka goresan ditangannya, dan badannya terlihat seperti menegang menahan rasa sakit. Apa Ajushi ini baru saja berkelahi.

Aku mulai melangkah mendekatinya.

“Ajushi, Gwenchanaseo??”

“Kau panggil aku ap??Ajushi?? Yak~ aku masih muda bodoh” sahut Ajushi itu masih dengan suaranya yang parau, disaat seperti ini masih bisa-bisanya dia bicara itu??ckckck

“Ah, baiklah lalu apa yang terjadi denganmu??” aku berjongkok untuk mensejajarkan diriku dengannya.

“Kau bisa membantuku membersihkan luka-luka ini? Atau carikan bantuan yang bisa menolongku?” Namja itu mulai mengangkat wajahnya yang sedari tadi terus tertunduk. Dan sepertinya aku salah, dia ini bukan seorang Ajushi. Wajahnya masih terlihat muda, sepertinya umur kami sama. Dan kulihat ada beberapa goresan diwajahnya, goresan yang cukup banyak. Ditangan kanannya juga terdapat luka yang cukup dalam. Sedangkan tangan kirinya terus memegangi dadanya. Dan astaga kenapa dadanya mengeluarkan darah??

“Yak~ apa kau tertusuk?”

“hmmmmmmmm”

“Kau tunggu sini Ne ? aku akan carikan taxi. Kau harus tahan jangan sampai kau tertidur, Arraseo??”

“.———-“

“Yak~ apa kau masih bisa mendengarku? Kau jangan pingsan”

“Kenapa kau cerewet sekali, kalau kau masih terus banyak bicara, bisa-bisa aku mati sekarang juga..”

Ya.. Tuhan, kenapa aku harus bertemu namja yang sedang terluka, bisa-bisa aku yang disalahkan bila terjadi apa-apa dengannya. Dan sekarang kenapa taxi sangat langka sekali yang melewati jalan ini..

Tiiinn,,tiinn..

Astaga ada apa lagi ini, kenapa mobil ini terus mengklasoniku ku, apa dia tidak tau  kalau aku sedang panik?? Aku dapat melihat wajahnya begitu si pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya.

“Hyunmi~a apa yang kau lakukan di pinggir jalan begini? Hari sudah larut Hyunmi~a, cepat lah pulang”

Eoh, Lay Sunbae. Aku sedang mencari taxi. Ada seseorang yang sedang terluka di ujung jalan sana” aku menujukkan jalan tempat dimana Namja itu berada.

Mwo?? Dimana orang itu?? Apa lukanya cukup parah?? Biar aku yang bawa dia kerumah sakit” sahut lay sunbae keluar dari mobilnya. Dan aku mulai berjalan ketempat namja tadi terkulai diikuti Lay sunbae dibelakangku. Setelah sampai ditempat Lay Sunbae langsung menaikkan Namja itu di punggung belakangnya. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan ini.

“Kau pulanglah, ini sudah malam. Biar aku yang mengurus namja ini” kata Lay sunbae yang mulai membuka pintu mobilnya

Jinjaeyo?? Gomawo sunbae”

“Ne, kau ber hati-hatilah dijalan”

@lay klinik

“Tuan… aku tidak sempat membawamu ke Rumah Sakit, karena jarak Rumah Sakit sangat jauh dari sini. Selain itu, lukamu cukup parah, kita tidak punya banyak waktu lagi. Jadi aku bawa mu ke klinik ku, tenang saja aku juga seorang dokter”

“hmmmmmmm”

“Tahan sebentar, ini mungkin akan terasa sedikit sakit??” Lelaki berjas putih itu mulai menusukkan jarum suntik ditubuhnya.

“Kenapa kau bisa terluka separah ini?”

“Aku berkelahi”

“Dengan preman?? Sepertinya lukamu bukan karena perkelahian biasa, karena ini bukan luka yang disebabkan oleh manusia ataupun hewan.” Ucap sang pria pelan sambil masih menjahit luka sobek yang terdapat di dadanya

“Apa maksud mu??”

“Kalian masih memperebutkan hal itu??”

Mwo…?? Aku tak mengerti apa yang sedang kau bicarakan”

“Aku bisa merasakannya dari nadimu, kau bukan manusia biasa. Manusia biasa tidak mempunyai nadi seperti ini ”

“kau….”

“Baiklah selesai. Kau masih harus banyak beristirahat. Untuk malam ini menginaplah disini”

“Kau tidak takut jika nanti para teman mu menyangka kau penghianat??”

“Menolong orang adalah tugasku, sekalipun dia seorang musuh”

“Baiklah, Yeoja yang tadi itu..dia pacarmu??

Ani, dia Hoobae ku di kampus”

@@@@

@kyunghee university

=== hyun mi Pov==

Hari ini aku sangat malas untuk kekampus karena mata kuliah hari ini hanya satu. Terlebih lagi tadi malam, aku tidak bisa tertidur karena memikirkan Namja yang terluka itu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku sangat memperdulikannya, padahal kami baru saja bertemu. Ah~ mungkin karena luka yang dialami namja itu sangat parah.

Aku memasuki gerbang kampus dan berjalan menuju gedung fakultas ku. Saat melewati parkiran aku bertemu Lay sunbae yang sedang memarkirkan mobilnya. Akupun berniat menghampiri Lay sunbae disana.

“Sunbae…”

Eoh,,Hyunmi~ah Wae??

“hmmm,,itu….” aku sedikit ragu untuk menanyakannya pada Lay Sunbae.

“Ah,,,Namja itu baik-baik saja” Aku menatapnya kaget, ternyata dia mengerti maksudku.

“Syukurlah kalau begitu”

“Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya?? Kau mengenalnya?”

Mwo?? Aa…ani.. aku baru bertemu dengannya tadi malam”

“Benarkah ? baiklah anggap saja begitu, kau ingin ke fakultas mu?? Kalau begitu kita jalan bersama”

“hmmmm” aku dan Lay sunbae berjalan menjauhi tempat parkir dan menuju gedung fakultasku dan tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan. Sepertinya dia meneriaki kami.

“Yak~ tunggu aku” aku dan Lay sunbae menoleh kearah sumber suara dan ternyata suara ini adalah suara namja yang tadi malam itu. Kulihat dia melambaikan tangannya kearah kami dengan senyum yang mengembang di bibirnya sembari mulai menghampiri kami.

“Yak~ apa yang kaulakukan..kau harusnya beristirahat” sahut Lay sunbae

“Ah~ aku sangat bosan diklinik mu, jadi diam-diam saat kau berangkat tadi aku mengikutimu dari belakang. Kau, bukannya kau yeoja yang semalam??”  tanya namja itu kepadaku yang masih terdiam.

“hmmmmm” jawabku sekenanya

Gomawo atas bantuanmu semalam. Namaku Chanyeol, Park Chanyeol” aku masih terdiam melihat uluran tangannya..

“Kenapa kau tidak menyambut tanganku, bukankah saat seseorang mengajakmu berkenalan, kau harus menyambut tangannnya. Apa kau takut tanganku ini kotor” sahut namja itu lagi karena melihat ku yang masih diam terpaku melihat tangannya yang tiba-tiba terulur kearahku

Aaa..ani..aku Hyun mi..Kim Hyun Mi”

“Nama yang bagus, ah~ hyung sepertinya kampus ini sangat menarik. Apa kau tidak bisa membantuku kuliah dikampus ini??”

mwo??” Sahut aku dan lay berbarengan.

@@@

Author POV

Di sebuah apartemen yang berada di jantung kota Seoul, terdapat dua Namja yang luar biasa menawan tengah berbincang ringan di salah satu ruang apartemen tersebut. Keduanya tengah menikmati secangkir teh panas yang sepertinya baru saja di seduh. Apartemen ini cukup luas, dan yang tinggal di dalamnya hanya dua orang. Ini semakin membuat segala sudut yang ada di sana terlihat begitu luas.

“Jadi apa rencana mu?” tanya pria berwajah manis terhadap pria yang duduk di hadapannya.

“Aku belum memikirkan apa pun” jawab pria bertubuh jangkung itu. Pria berwajah manis pun mendesah kesal.

“Oh ayolah Kris, ini sudah minggu kedua kita di bumi, dan kau belum juga tau apa yang harus di lakukan?” Pria yang bernama Kris menatap lawan bicaranya dengan tatapan datarnya yang seperti biasa.

“Kenapa memangnya? Apa kau memiliki ide bagus Lu han?”

“Ya… jangan balik bertanya padaku, Kau kan leader dari misi ini. Jadi kau harus memikirkan apa yang akan kita lakukan” jawab Lu Han yang semakin menyudutkan Kris.

Kali ini gantian Kris yang medesah panjang, dia melipat kedua tangannya seraya menyandarkan tubuhnya ke sadaran sofa.

“Jujur, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana? Tidak mudah menemukan liontin itu. Belum lagi benda itu kan kecil, jadi akan sangat mudah di sembunyikan oleh siapa pun hanya dengan mengenggamnya”

“Lalu apakah kau akan menyerah, sebelum memulai untuk mencarinya?” Lu Han kembali menyudutkan pria ini, bukan menyudutkan dia berusaha untuk membuat Kris lekas bertindak, atau jika tidak maka bencana akan terjadi.

“Ingat Kris, jika kau berhasil menemukan benda itu, maka kau juga akan bertemu keluarga mu, ibu dan adik perempuanmu. Bukankah itu tujuan utama mu menerima misi ini”

Seakan tersadar dari lamunan panjangnya, Kris kembali menegakkan badannya, Lu Han benar. Menemukan benda itu berarti juga menemukan keluarganya, keluarga yang selama ini di anggapnya sudah mati.

“Baiklah mulai besok kita akan melakukan pencarian benda itu” Kris hendak berdiri sebelum akhirnya dia kembali duduk.

“Kau bereskan ini semuanya, aku ingin istirahat sambil memikirkan apa yang harus kita lakukan besok” Lu Han mengangguk, Kris berjalan menuju salah satu kamar yang ada disana, namun langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar, dia kembali menoleh pada Lu Han.

“Hei, jangan gunakan Telekinesis mu, bersikap lah sebagai manusia normal, kita harus melatihnya selagi disini” ucap Kris pada Lu Han yang baru saja akan memindahkan cangkir-cangkir itu dengan kekuatannya.

Lu Han menatap pintu kamar Kris yang baru saja tertutup, sebal dengan apa yang di katakan temannya, namun Lu Han tetap menurutinya. Benar kata Kris ini dimensi Manusia dan bukan Lucerna. Jadi dia harus berhati-hati.

@@@

Kris POV

Sebuah benda berbentuk bundar pipih yang mungkin terlihat usang namun masih tetap bisa memancarkan sinarnya. Benda yang bisa di genggam dengan mudah, yang dapat menarik perhatian kaum hawa dengan kecantikannya. Benda itulah yang membuatku sekarang berada di sini. Karena untuk mencari keberadaan benda itu, aku di perintahkan untuk turun ke bumi.

Aku sebenarnya tidak tau dengan pasti bagaimana rupa liontin itu. Apa yang kupikirkan tadi itu hanya sekedar dugaanku saja. Aku menghela napas panjang, entah bagaimana cara menemukan sebuah liontin tua di berbagai tempat perhiasan yang ada di negara ini.

Iya benar, para tetinggi dan Eteuk Ajushi sudah memperkirakan keberadaan liontin itu ada di Korea. Mereka merasakan aura yang mirip dengan liontin itu di negara gingseng ini.  Selain itu, ada rahasia besar yang baru ku ketahui akhir-akhir ini. Wanita yang membawa liontin itu turun kebumi adalah ibu dan adik perempuanku. Tidak kusangka, aku masih memiliki mereka.  Yang sekarang merupakan prioritasku adalah untuk menemukan mereka, sebelum orang-orang Daemonuim menemukannya lebih dulu.

“Kris…!!!” aku hanya menoleh sedikit pada sumber suara, aku tau siapa yang datang. Luhan, sahabat karibku dia juga di perintahkan untuk mencari liontin itu bersama ku.

“Sedang apa kau ?”

“Hanya sedang berpikir” ku lihat dia tersenyum mengejek.

“Kau tak akan menemukan Liontin itu, jika hanya duduk manis disini sambil berpikir”

Aku menatapnya, seakan bertanya padanya ‘memang apa yang harus kulakukan?’ Luhan balas menatapku.

“Jika kau bertanya, apa yang harus di lakukan. Jujur saja aku tidak tau pasti. Tapi aku ada ide” Aku menatapnya intens, sambil menunggunya kembali berbicara.

“Ini tidak akan membantu banyak, tapi setidaknya kita bisa mendapatkan informasi dari Lay, pergilah temui dia di tempatnya bekerja sekarang”

Aku berpikir sejenak, sepertinya aku sedikit tidak asing dengan nama itu.

“Maksudmu Zang Yixing yang seorang Healer itu ? jadi dia ada di bumi ?” Luhan mengangguk,

“Karena dia sudah lebih dulu tinggal di bumi, mungkin saja dia sudah menemukan sesuatu lebih dulu dari kita”

Aku terdiam seolah membenarkan perkataaan Luhan, setelah beberapa detik aku memtuskan untuk menemui Lay.

“Aku pergi Luhan, Kau cari lah informasi lainnya” ucapku pada Luhan yang mengangguk.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki, sambil menikmati suasana di kota Seoul ini. Bagi kaum kami bukan hal yang sulit untuk beradaptasi dan mempelajari apa pun yang ada dunia manusia. Itulah perbedaan kami, kami memiliki derajat yang lebih tinggi dari manusia. Namun aku selalu menganggap manusia itu sebagai makhluk yang pintar. Bagaimana tidak, jika dari otak mereka lah, mereka dapat menciptakan benda-benda aneh yang saat ini ada di hadapanku. Seperti, benda persegi panjang beroda yang di sebut mobil, ataupun benda-benda yang lainnya.

Aku tengah duduk di tempat yang beratap di pinggir jalan, tempat biasa bus menaikan dan menurunkan manusia itu. Aku sedang berpikir, kira-kira apa ya yang nanti akan ku bicarakan dengan Lay. Dulu saat di Lucerna, aku cukup mengenalnya, tapi karena sudah beberapa tahun ini tidak bertemu. Pasti suasana akan sedikit canggung.

Saat tengah diam berpikir, aku melihat pemandangan menarik di hadapanku. Seorang gadis tengah membantu lansia yang ingin menyebrang jalan, dia terlihat begitu lembut dan sabar menuntun orang tua itu. Begitu sampai seberang jalan sana, lansia itu mengucapkan terima kasih dan gadis itu tersenyum manis membalasnya. Dan tiba-tiba, Cess… aku merasakan hati ku menghanggat begitu melihatnya tersenyum. Ada bedaran aneh yang membuat kerja jantungku semakin cepat.

Gadis itu kembali menyebrang ke sisi ini, dan mengapa seiring dengan langkahnya yang mendekat padaku, aku terus merasakan terpaan angin yang menyejukkan. Dan aku sama sekali tak bisa melepaskan pandangan ku darinya. Ada sesuatu yang membuatku terasa begitu tenang saat menatapnya. Aneh sekali aku tidak pernah mengalami hal seperti ini selama di Lucerna. Gadis itu menaiki salah satu Bus yang mendekat, dan entah mengapa aku pun ikut bangkit berdiri mengikutinya. Aku mengambil duduk dua bangku di belakang darinya. Agar tetap bisa melihat wajahnya.

Gadis ini benar-benar terlihat ceria dari setiap sudut wajahnya. Ada perasaan dalam diriku yang ingin sekali bisa dekat dengannya.

@@@

Author POV

Di sudut lain dalam Bus itu, terlihat seorang pria dengan wajah angkuh dan dingin. Yang sejak tadi mengikuti Kris, dan melihat segala gerak-gerik yang di lakukan Kris. Dia menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai dingin di wajahnya.

“Jadi kau tertarik pada gadis itu? Lihat saja aku akan membuat suatu permainan yang menyenangkan selama kita ada di sini”

Pria ini turun saat di pemberentian bus selanjutnya, masih dengan seyum tipis menghiasi wajah dinginnya.

“Aku akan membuat dia jatuh ke tangan ku Kris, dengan begitu kau akan menjadi boneka ku” ucapanya yang di tujukan untuk dirinya sendiri.

“Kai…!!!” seseorang memanggil namanya, pria betubuh tinggi dan berwajah nyaris sama dinginnya dengan Kai menepuk pundaknya.

“Sedang apa kau ? mengapa kau menaiki benda aneh buatan para Humani itu” tanya nya begitu sampai di tempat Kai berdiri.

“Aku baru saja menemukan mainan baru Sehun~a, dan kurasa tidak terlalu buruk tinggal di bumi, malah akan sangat menyenangkan sekali” Pria bernama Sehun itu terlonjak mendengar ucapan temannya. Bagaimana mungkin tempat yang begitu menyebalkan yang di sebut bumi, bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Sehun merasa ada yang salah dengan Kai, namun dia terlalu tidak peduli.

“Terserah apa katamu, aku tidak peduli. Semakin cepat kita mendapatkan Liontin itu, maka semakin cepat kita kembali ke Daemonium” Kai hanya memberikan seringai tipis untuk menjawab kalimatnya.

“Dimana Chanyeol ?” Tanya Kai sambil kembali berjalan.

“Entahlah, dia belum kembali sejak semalam” Sehun mengangkat bahunya, tanda dia tidak tau.

“Bocah itu selalu keluyuran tanpa seijinku” umpat Kai kesal.

“Ngomong-ngomong, kau habis dari mana?” Sehun kembali membahas topik awal yang tadi sempat teralihkan.

“Aku akan menceritakannya nanti saat Chanyeol sudah kembali. Karena aku tidak suka harus mengatakan hal yang sama berulang kali” serunya dingin, setelah mengatakan itu dia ber Teleport dari sana, hingga membuat Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Selalu saja pergi dan datang sesukanya”

@@@

*Shin Ah Ri POV*

Pagi yang cerah seperti biasa, aku menjajakan kaki ku memasuki gedung unversitas. Ya aku seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan Psikologi. Karena sudah menjadi senior, kegiatan di kampus tidak sebanyak tahun-tahun pertama ku. Saat ini aku sedang melakukan berbagai macam riset dan studi kasus untuk tugas akhirku. Aku juga sering mengisi seminar-seminar motivator jika di minta.

“Ah R~ah” sebuah sapaan menghentikan langkahku, aku menoleh untuk memeriksa sumber suara. Seorang pria tampan tengah berjalan menghampiriku,

“Lay Sunbaenim” sapa ku padanya begitu dia berdiri di hadapanku. Dia tersenyum sekilas, lalu setelahnya langsung memasang wajah tak senang.

“Kau ini, jangan panggil aku Sunbae. Sudah berapa lama kali ku katakan” aku tersenyum jahil padanya.

Wae ? tidak mau jika kau terlihat lebih tua ya?” Goda ku yang langsung mendapat tatapan tajam darinya.

Namanya adalah Zang Yi Xing, namun lebih di kenal sebagai Lay. Lay adalah seorang dokter yang tengah mengambil spesialis, sambil membuka prateknya di kampus ini. Aku sering bekerja sama dengannya.

“Mianhae, aku hanya bercanda. Toh walaupun begitu kau tetap tampan dan banyak sekali wanita yang rela mempertaruhkan segalanya demi berkencan denganmu”

Kami tertawa lepas, saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika ada seorang Yeoja yang sampai berlutut di depan kliniknya seharian, demi untuk mengajak Lay untuk berkencan dengannya. Gadis itu sama sekali tidak menghiarukan banyaknya orang yang lalu lalang dan memperhatikannya sebagai orang yang tak waras. Jika sudah begitu maka Lay akan meminta bantuan ku untuk mengurusnya. Sebenarnya hubungan kami seperti simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan. Lay selalu kesusahan jika menghadapi tingkah laku fans-fansnya, maka dia meminta bantuan ku. Dan karena sering membantu Lay mengurus Fansnya yang super fanatik itu aku jadi dapat bahan risetku. Lagi pula sangat menyenangkan bekerja sama dengannya. Dia seorang dokter yang cakap sekali, semua pasien yang berobat padanya pasti akan sembuh. Sepertinya dia memang seorang pria yang memiliki banyak kelebihan dalam dirinya, hingga sangat wajar jika di puja ribuan gadis di kampus ini.

“Sudah jangan membahas hal itu, aku ingin memberitahukan mu sesuatu” aku mulai mengatur napas ku yang masih tersengal.

“Ada apa Oppa?” ya Lay selalu menyuruh ku untuk memangilnya Oppa atau hanya Lay saja. Tapi ku rasa Lay Oppa jauh lebih baik.

“Salah satu pasienku, mengalami sedikit gungcangan. Aku mendapati banyak luka di tubuhnya, dan saat aku menyentuhnya dia seakan terus menghindar. Pasti terjadi sesuatu dalam dirinya. Kau mau kan memeriksanya?”

Aku diam sebentar, guncangan ? apakah itu seperti Trauma? Selama ini aku belum menghadapi kasus berlatar belakang Trauma yang mendalam, sepertinya cukup menarik juga untuk di tangani.

“Baiklah Oppa, aku akan memeriksanya, panggil saja aku saat dia tengah berobat di klinik”

Lay mengangguk senang mendengar jawabanku. Satu lagi yang membuat kami dekat. Aku dan Lay sangat senang jika dapat membatu menyebuhkan luka setiap orang, walaupun berbeda jenis. Jika Lay mengobati luka di tubuh pasien, maka aku menyebuhkan luka yang terdapat dalam jiwa pasien.

@@@

*Author POV*

Kris terdiam di tempatnya, saat menyaksiakan gadis yang di ikutinya tengah tertawa lepas bersama orang yang ingin di temuinya. Ternyata takdir menemukan mereka di sini. Kris secara tidak sengaja mengikuti gadis itu, namun ternyata gadis itu pula lah yang membawanya menemui Lay. Sebesit pertanyaan di sudut pikirannya, ada hubungan apa Lay dengan gadis itu? Mereka terlihat sangat dekat.

@@@

~Di Sebuah Taman di Kota Seoul~

“Miso ya !”

“Ya Tuhan !!” aku terkejut saat temanku tiba-tiba memanggilku dari belakang.

“Kenapa sampai kaget begitu ?” tanya nya tampak heran.

“A..ani..”

“Oh..iya.. kau sudah menonton drama terbarunya Song Ji Hyo belum ?”

“Wah dramanya sudah keluar yah ? ish.. Aku belum sempat menontonnya lagi, memangnya sinopsis ceritanya seperti apa ?”

“Jadi di drama itu, ceritanya Jihyo eonni memiliki penggemar rahasia yang selalu mengikutinya setiap hari, penggemar rahasianya itu selalu mengirimi nya surat yang berisikan puisi-puisi, dan setiap pagi selalu membawakan banyak rangkaian bunga di depan rumahnya.

“Wah.. romatis sekali” ucapku sambil tersenyum bodoh.

“Iya kan.. dramanya memang romantis sekali, lalu..”

Ah.. Ngomong-ngomong soal penggemar rahasia, akhir-akhir ini aku merasa… kalau sepertinya ada seseorang yang diam-diam selalu mengikutiku, tapi.. ini jauh sekali dari kesan kata romantis, orang itu lebih bisa dikatakan sebagai seorang penguntit, ya.. itu dimulai dari beberapa hari yang lalu, saat aku baru saja pulang dari supermarket.

Flashback

Pukul 09.00 malam.

“Aish.. sepertinya aku tersesat lagi, kenapa sih aku selalu saja lupa jalan pulang !”

Aku sedikit melirikan mata ku ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan, jujur saja, saat ini aku merasa sedikit takut berjalan sendirian melewati gang ini.. karena.. tampaknya gang ini jarang sekali dilewati oleh para pejalan kaki, terlebih lagi lampu penerangan jalannya tidak terlalu terang.

“Aigoo.. mana belanjaan ku berat sekali, hah.. susahnya tinggal sendirian di kota Seoul, kalau tahu begini, aku tetap tinggal bersama ibuku saja di Mokpo, lalu meneruskan kuliahku di universitas yang ada di sana”

Tap..

tap..

tap..

Aku seperti mendengar suara langkah kaki berjalan dari arah belakang, dan tempo langkahnya pun nampak mengikuti tempo langkahku,

Karena di dera perasaan was-was, aku pun mempercepat langkahku untuk sedikit menjauhi suara langkah itu, namun semakin cepat aku melangkah, semakin cepat juga suara langkah itu terdengar mendekatiku.

Ya..Tuhan !! Jangan-jangan ada orang yang sedang mengikuti ku ?!”

Dengan segala keberanianku, aku pun seketika menolehkan wajahku ke arah belakang,

Set

Ah.. benar saja, kulihat ada seseorang yang sedang berjalan di belakangku, Orang itu.. Seorang namja kah ? Aish.. masa bodo lah, yang penting sekarang aku harus lari.

Aku langsung berlari dengan kecepatan semaksimal mungkin, dan sialnya, orang itu juga ikut berlari mengejarku, karena semakin panik, aku pun seketika melemparkan bahan-bahan makanan yang baru kubeli ke arahnya.

“YAK.. Kau orang aneh, berhentilah mengejarku !” Kulemparkan setumpuk bawang bombay ke arahnya, namun orang itu benar-benar gesit dan selalu bisa menghindari lemparanku.

“Ottokhae.. aku masih mau hidup dan melanjutkan kuliahku di Seoul !!” Aku terus berusaha melarikan diri dengan melemparkan sisa-sisa bahan makanan yang ada, sampai akhirnya aku melihat jalan besar yang untungnya terdapat halte disana.

Tanpa basa-basi aku langsung menaiki bus yang baru saja datang, dan setelah masuk ke dalam, dari kaca jendela, kulihat orang itu langsung bersembunyi di balik tiang listrik, sekilas aku melihat wajahnya, melihat sorot matanya yang tajam, dan karena takut, akupun langsung membalikan tubuhku dan tak mau melihat ke arahnya.

“Hah.. untung saja aku bisa melarikan diri”

Aku menatap kosong kantung plastik belanjaan ku, “Aigoo.. gara-gara orang itu, jatah makan ku untuk dua hari kedepan jadi lenyap begitu saja, menyebalkan..”

Flasback end

 

“Jadi begitulah sinopsisnya, Eoh ? Yak.. Miso-ya..! Kau mendengar ceritaku tidak sih ?!” omelan Jiyeon membuyarkan lamunanku.

“A..aku mendengarkanmu kok”

“Apanya yang mendengarkan, wajahmu terlihat melamun begitu kok, oh iya.. tadi aku baru saja potong rambut loh, nah karena itu.. kau tolong foto aku dulu yah, nanti fotonya akan ku upload ke dalam blog ku, kau tahu kan, kalau aku ini bercita-cita ingin menjadi ulzzang yang paling terken..”

“Arraseo…arraseo..!! Pali.. sini aku fotokan, kau mau memakai ponsel siapa ?”

“Ponselmu saja, hehe..”

“Dasar..” Aku sedikit memutar bola mataku, aigoo.. temanku yang satu ini memang centil sekali.

“Hana.. dul.. ” aku memfokuskan mataku ke arah kamera, namun saat kuperhatikan lebih seksama, dari layar kamera tertangkap seorang namja tengah duduk di bangku taman menatap kearah kami. Aku pun mulai memperbesar layar kamera untuk melihat wajahnya lebih dekat, dan setelah kuperhatikan, sekilas namja itu seperti…

“Miso-ya !!”

“Ya ?!” Aku begitu tersentak dan langsung menurunkan ponselku.

“Yak.. aku sudah di foto belum sih ?”

“A.. aku pulang duluan ne..” ucapku panik.

“Wae ?”

“Aniyo.. bye.. sampai jumpa besok yah !!”

“Miso-ya..!! Hwang Miso !!!”

Aku seketika berjalan tanpa memperdulikan temanku yang terus memanggil namaku, tidak.. aku bahkan tidak memperdulikan sekelilingku, yang terpenting sekarang hanyalah, aku ingin segera pulang ke dormku, menghindari orang aneh itu, karena aku sangat takut.. aku tidak mengerti kenapa orang itu terus mengikutiku.

@

Pukul 10.00 Malam.

~Di sebuah Dorm milik Miso~

#BRAK…

Aku seketika terbangun dari tidurku karena terkejut mendengar ada suara benturan keras yang entah berasal dari mana. Dan tiba-tiba, Kurasakan ada semilir angin yang menjalar di sekujur tubuhku, tunggu dulu.. angin ?

Aku langsung bangun dari posisi tidurku dan menoleh kebelakang, ya.. benar, ternyata jendela kamar ku sudah terbuka, salah satu bingkai kaca jendelaku terlihat membentur-bentur dinding karena tertiup angin.

“Ah~ ternyata suara benturan tadi berasal dari jendela” gerutu ku pelan sambil berjalan ke arah jendela.

“Eh.. Tapi… seingatku, aku sudah menguncinya, angin sekencang apa yang bisa menjebol jendela yang sudah terkunci ?” aku berpikir keras sambil melihat ke arah luar jendela yang berpapasan langsung dengan jalan. Karena kamarku ada di lantai dua, aku tentu lebih leluasa melihat keadaan di sekelilingku.

Dan sampai mataku tertuju pada seseorang yang terlihat diam berdiri di sudut gang dan sepertinya orang itu melihat ke arah…

#BRAK..

Kututup jendela itu dengan kencang, bahkan aku hampir membantingnya.

“A..apa… dia.. orang itu ? Bahkan.. dia mengikutiku sampai ke dorm ?”

“Ommo.. Ottokhae ?” tanganku terasa gemetar saat berusaha mengunci kaca jendela, lalu setelah kuyakini jendela kamarku sudah terkunci rapat, aku langsung berlari naik ke atas kasur dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.

@@

 Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing….

Aku terbangun ketika mendengar jam weker ku berbunyi, tanpa pikir panjang aku pun langsung mematikannya. Lalu kulihat jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi.

Ketika beranjak dari kasur, tiba-tiba saja aku mengingat kembali kejadian semalam, ya.. penguntit itu semalam menunggu ku di depan dorm, bukankah hal itu sudah sangat keterlaluan ?

Aku melirikan mataku ke arah jendela, hah.. untunglah jendelanya masih tertutup dengan rapat, tapi ada satu hal yang membuatku heran, ada yang aneh dengan beranda kecil yang terletak di depan jendela kamarku.

Perlahan aku pun membuka kaca jendela untuk melihat beranda itu, beranda yang biasanya tidak pernah kutaruh apapun disana, hari ini menjadi penuh dihiasi dengan berbagai macam pot bunga yang berwarna-warni.

“Eung ? Siapa yang menaruh pot bunga sebanyak ini disini ? Apa bibi Hyo ri yang.. ah tidak mungkin, dari semalam, kamarku selalu di kunci kok, dan kalaupun di taruh dari luar.. ini kan… lantai dua, tunggu.. pot bunga ini.. seperti pernah kulihat dimana yah..”

Tok..tok..tok…

“Miso-ya..!!!!”

“Eoh !” Kudengar bibi Hyori memanggilku, aku pun langsung bergegas untuk membukakan pintu kamar.

#Ceklek.

“Iya.. Ada apa bi ?”

“Miso-ya..  kenapa kau menaruh semua pot-pot bunga kesayangan bibi di depan kamarmu ?!!”

“Eh ?! Jadi pot bunga itu milik bibi, pantas saja seperti pernah kulihat”

“Pokoknya… sekarang cepat kau pindahkan semua pot-pot itu kembali ke pekarangan !!”

“Semuanya ?”

“SEMUANYA !!!”

“Aish… siapa sih orang yang sudah mengerjaiku di pagi hari begini !!!” aku pun hanya bisa menggerutu dalam hati.

.

“Hah.. akhirnya hanya tinggal satu pot lagi yang perlu ku pindahkan, jadi semuanya ada tiga pul.. Kyaaaa…”

#PRANG.. tidak sengaja aku tersandung di tangga dan mengakibakan pot itu..

“Ommo..!! Bagaimana ini ?”

“HWANG… MIII… SOOOOO !!!!!”

“Aish gawat.. sebaiknya aku segera menyelematkan diri”

@@@

Sebelum berangkat naik bus untuk pergi ke kampus, aku menyempatkan diriku untuk sarapan terlebih dahulu di salah satu kafe yang biasa ku kunjungi.

“Hah.. Pagi-pagi sudah kena sial karena pot, awas yah..  kalau aku sampai tahu siapa orang yang mengerjaiku, aku tidak akan segan-segan untuk membalasnya”

“Aigoo.. perutku lapar lagi… kenapa sih pelayannya lama sekali”

Ketika aku sedang menunggu pesananku datang, tiba-tiba saja ada dua orang ajeushi yang datang menghampiriku, dan tanpa basa-basi, kedua orang itu mulai membacakan sebuah puisi di hadapanku.

“Yak… kalian siapa ? Kenapa membacakan puisi di depanku seperti ini ?”

“Cinta… Cinta adalah pengorbanan !” sahut salah seorang ajeushi di depan wajahku.

“Yak ajeushi.. cepat hentikan.. ini memalukan”

“Cinta.. adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada sepasang manusia untuk..”

“Ajeushi..!!!” bentak ku kesal sambil sedikit memukul meja.

“Nona tidak menyukai puisi kami ?” tanyanya tanpa dosa.

Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum tak jelas, lalu kupandang sekelilingku dengan ragu, dan betapa malunya aku ketika semua orang ternyata tengah memandang ke arahku.

“Pesanan sudah siap !” Sahut salah seorang pelayan datang menghampiri.

Aku berdiri dan tersenyum ke arah pelayan itu, lalu ku ambil sepotong sandwich dari atas nampan yang tengah dibawanya.

“Tidak usah pakai piring, ini uangnya” ucapku lemas seraya berjalan keluar restoran dengan menutupi wajahku.

@@@@

Saat ini aku tengah menunggu temanku di sebuah kantin yang ada di belakang kampus.

“Kenapa yah, aku merasa, kalau apa yang aku alami hari ini, persis sekali seperti apa yang terjadi di dramanya Jihyo eonni” gerutuku dalam hati.

“Mungkinkah.. penguntit itu yang… aish.. dipikirkan saja sudah membuatku takut”

Beberapa menit kemudian,

“Eoh itu dia !..  Jiyeon-na !!” Aku melambai-lambaikan tanganku ke arahnya.

.

“Kau mau aku… mengulang cerita dramanya Jihyo eonni lagi ?” tanya Jiyeon yang sepertinya sudah memberikan kode kalau dia malas menceritakan drama itu lagi kepadaku.

“Ah arraseo.. arraseo.. kau ceritakan saja episode yang selanjutnya, sehabis namja itu memberikan sebuah puisi dan rangkaian bunga kepada Jihyo eonni, lalu apa lagi yang dilakukan namja itu ?”

“Sehabis itu, dia menyatakan cintanya kepada Jihyo eonni di depan orang banyak”

“Uhuk..” Aku sontak tersedak air mineral yang sedang ku minum,

“Ka..kau..bilang apa ?”

“Aku bilang, Namja itu.. menyatakan cintanya di depan orang banyak”

Glek.. aku menelan saliva ku lumayan keras. Menerka-nerka sesuatu yang membuat perasaan ku menjadi terasa cemas.

@@@@@

Author POV

~Di Kelas Psikologi~

“Ya.. baik, kita mulai saja presentasi kita hari ini”  ungkap salah seorang dosen.

“Hwang Mi So, silahkan maju kedepan dan presentasikan tugasmu”

“Aish.. Sincha.. dari semua mahasiswa, kenapa harus aku sih yang maju pertama, hari ini aku benar-benar sial”

Miso mulai membuka note booknya, kemudian menyambungkan note booknya itu ke sebuah proyektor.

“Jadi.. psikologi adalah..”

Tok..Tok..Tok..

Kalimat yang diucapkan Miso seketika terhenti karena mendengar suara ketukan pintu,

#SRAK…

Pintu kelas itu terbuka dan seketika menampakan seorang Namja yang dengan seenaknya masuk tanpa permisi.

Tentu saja Miso langsung mengalihkan pandangannya ke arah Namja itu, bukan hanya Miso, melainkan juga gadis-gadis yang ada di sana, bagaimana tidak, Namja itu memiliki tubuh yang tinggi nan proposional, wajahnya sangat tampan, dan kulitnya pun begitu putih tanpa gores sedikitpun.

Namja itu terlihat menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari seseorang.

“Maaf, anda mencari siapa yah ? Kenapa masuk ke kelas dengan seenaknya saja !!” tanya Dosen itu kepada Namja itu.

“Aku sedang mencari seorang gadis, dan sayangnya.. aku tidak mengetahui nama gadis itu, yang aku ketahui hanyalah.. dia adalah seorang gadis yang sangat cantik” ungkap Namja itu dengan santainya.

“Kyaaaa…” gadis-gadis yang ada di kelas seketika berteriak histeris mendengarnya.

“Apa-apaan dia ?” gerutu Miso pelan.

Namja itu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Miso, dan Miso pun hanya terdiam mengerjapkan matanya, sesaat kedua orang itu pun hanya saling memandang satu sama lain.

“Sorot mata itu… Namja ini kan…”

Buk..

Sebuah buku yang tengah di genggam Miso pun jatuh, Miso seketika menyadari kalau Namja inilah yang selama ini mengikutinya.

“Ottokhae.. Di..dia berjalan ke arah ku”

Namja itu mengambil buku Miso yang jatuh dan tidak memutuskan pandangannya terhadap Miso yang hanya diam membeku.

“Annyeong..!!”  ucapnya sambil memberikan buku itu kepada Miso.

“Miso, apa dia teman mu ? Cepat suruh dia keluar, anak ini sudah menganggu perkuliahan”

“Nde ? Di..dia.. bukan teman saya pak”

“Jadi nama mu adalah Miso ?” ucap Namja itu menyambar pembicaraan.

“Aish.. kenapa orang ini harus mengikutiku sampai ke kelas sih ?”  omel Miso di dalam benaknya.

“Miso-ssi..! Jika kau tidak mengusir teman mu sekarang juga, maka nilai presentasi mu akan bapak berikan F”

“Nde ? Tunggu dulu pak, Aish..sincha..”

“Yak.. Cepat sana keluar, kau itu siapa, aku sama sekali tidak mengenalmu”

“Perkenalkan.. Namaku Sehun, dan sebenarnya… ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu di depan semua yang ada disini”

“Eung ? Kau mau mengatakan a..apa ?”

“Aku mau mengatakan kalau aku..”

“Jangan-jangan dia mau…”

“Aku jatuh cinta padamu Miso.. semenjak pertama kali aku melihatmu”

Miso membulatkan matanya sempurna sambil menganga tak percaya, Namja ini benar-benar mengatakannya di depan umum sama seperti yang ada di drama.

“Uwaaaah.. Romantis sekali” orang-orang dikelas langsung bersorak ramai seraya menggoda Miso yang terlihat mematung di depan kelas.

“Dasar gila !!” Miso menaikan sebelah bibirnya sambil melotot kesal pada Namja itu.

“Hwang Mi So !! Kau Bapak berikan nilai F !!”

“Nde ! Ta..tapi pak..!!!!”

“Apa berarti sekarang Miso boleh keluar juga pak ?” tanya Sehun memasang wajah tak bersalah.

“KALIAN BERDUA KELUAR !!!”

“Aaaaaaaaargh Ottokhaeeee !!”  teriak Miso di dalam hati.

@@@@@@

Di sepanjang perjalanan menuju gerbang kampus, Miso terus berjalan cepat menjauhi namja itu, ya.. sejujurnya Miso masih takut dengan Namja bernama Sehun ini, bagaimana tidak, beberapa hari kebelakang, Namja ini selalu mengikutinya setiap hari.

“Miso-ya..!!”

“Yak.. Jangan memanggil ku seperti kau sudah mengenalku bertahun-tahun” sahut Miso sambil terus melangkah menjauhinya.

.

Sehun mengikuti Miso sampai ke sebuah halte, mereka duduk saling berjauhan di ujung kanan dan kiri bangku halte tersebut.

“Kenapa kau terus mengikutiku ?”  tanya Miso menolehkan matanya sinis ke arah Sehun yang duduk di ujung bangku halte.

“Sudah kubilang karena aku menyukai mu”

“A..apa ? Yak.. Di mataku, Kau itu tidaklah lebih dari seorang penguntit”

Namja itu perlahan berjalan mendekat ke arah Miso, dan langsung memposisikan dirinya berlutut di hadapan yeoja itu.

“Sudah kubilang jangan dekat-dekat denga.. !”

“Bagi ku.. Aku rela menguntit mu sampai kapanpun, asalkan aku… bisa melihat wajahmu setiap hari”

Miso menatap mata Sehun dalam, seakan-akan ia telah terjerat oleh kata-kata yang diucapkan oleh Namja ini, Namun…

“Hah.. sincha.. kau meniru kata-kata itu dari sebuah drama kan ?”

“Eoh ? Ke..kenapa kau bisa tahu ?”

“Pot bunga itu, membacakan puisi di sebuah restoran, Bahkan sampai menyatakan cinta di depan umum, Kau pikir aku tidak akan tahu”

“Apa kau.. sama sekali tidak terharu dengan apa yang kulakukan hari ini?” ungkap Sehun terlihat sedikit frustasi.

“Terharu ? Hah..sincha.. Gara-gara kau.. aku harus menurunkan 30 pot sendirian dari lantai 2, membuatku malu di depan umum, dan membuatku mendapatkan nilai F di kelas, Karena kau.. hari ini aku jadi terus ditimpa kesialan”

“Kenapa hasilnya beda sekali dengan apa yang ku tonton dari benda kotak itu” gerutu Sehun mengacak rambutnya.

Miso pun seketika berdiri dari posisi duduknya, “Mulai sekarang, aku mohon kepadamu, untuk jangan mengikutiku lagi, jangan mengganggu ku lagi, dan jangan coba-coba menemuiku ! Arraseo ?!”

“Lalu.. Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menyukai ku ?!”

“Kau tidak perlu melakukan apapun.. karena.. aku tidak akan pernah menyukai orang seperti mu”

“Benarkah ?” tanya Sehun merubah ekspresinya menjadi serius.

“Ne” jawab Miso penuh keyakinan.

Tap..tap..tap…

Dua orang ajeushi terlihat berlari ke arah halte tempat Miso dan Sehun berada,

“Yak.. kau pria muda yang ada disana !!, mana bayaran yang kau janjikan setelah kami membacakan puisi untuk Nona itu !!!”

“Eh.. kedua ajeushi itu kan.. ”

“Miso-ya ! Cepat Lari” Sehun seketika menarik tangan Miso dan langsung mengajaknya untuk melarikan diri.

“Yak.. kenapa aku disuruh ikut lari juga” ucap Miso yang tengah berusaha untuk mengimbangi kecepatan Sehun yang berlari sambil memegangi tangannya.

“Karena yang mereka tahu, kau itu adalah pacarku”

“A..apa ?!!!”

@@@@

Begitulah pertemuan pertama kami, pertemuan seorang mahasiswi biasa dengan seorang pria asing yang tiba-tiba saja membutuhkan sebuah pertolongan, pertemuan pertama seorang pria misterius dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati, dan pertemuan seorang Namja dengan seorang gadis yang selama ini selalu di ikutinya.

Pertemuan pertama yang mulai menghubungkan koneksi diantara mereka, sebuah koneksi yang akan dapat memecahkan sebuah alasan, alasan mengapa mereka sampai dipertemukan.

TBC

Kritik dan saran dari kalian akan sangat kami hargai..

Keep RCL ^^ :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s