Painful Love chap 2

994982_763853093629715_1703179254_n

 

Author : HunClaire

Cast : Park Na Ra

Kai

Luhan

Jung Soo Jung (Krystal Fx)

Genre : Sad Romance

Legth : chapter

Rate : T

Artworker : http://aliceyoora.wordpress.com/

 

Painful Love Chap 2

Duduk bersandar pada sebuah dinding yang kokoh, mencoba untuk menahan rasa sakit pada sebuah luka yang tergores di hati ini, kuharap ini tidak nyata.. tapi mengapa perasaanku berkata lain.. mungkinkah.. kau telah sedikit membagi hatimu untuk gadis itu Kai ?

 

**

“Yak Luhan-ssi.. kau mau kemana eoh ?!, kau harus segera melakukan kemoterapi mu !!” sahut seorang dokter tengah berlari mengejar salah satu pasiennya yang bernama Luhan.

BRAK…

Dibukanya pintu itu oleh Luhan, ia yang akhirnya sampai di atap gedung rumah sakit tempat dimana ia biasa bersembunyi, sejenak Luhan mengatur nafasnya, sampai tiba-tiba ia seperti mendengar suara tangisan seseorang, dahinya nampak mengerenyit, lalu memutuskan untuk menelusuri suara itu secara perlahan, benar saja, baru beberapa kali Luhan melangkah, ia langsung menemukan seorang gadis tengah duduk menangis sambil memeluk lututnya erat,

Sedikit demi sedikit Luhan berjalan mendekat, lalu merendahkan tubuhnya dengan bersimpu pada kedua lututnya, perlahan.. gadis itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan genangan air mata yang sudah membasahi pipinya,

“Jangan menangis ne…” ucap Luhan memberikan sehelai sapu tangan pada gadis itu, seorang gadis bernama Nara yang hanya terdiam dan memandangi wajah Luhan dalam beberapa detik, Luhan yang seakan terpesona dengan wajah sang yeoja yang menurutnya sangatlah cantik.

“Luhan !! Luhan-ssi !!” Suara yang sangat Luhan kenali terdengar dari arah pintu, karena panik, Luhan pun langsung bersembunyi dibalik sebuah celah dinding, dan di dihampirilah Nara oleh sang pemilik suara yang tadi memanggil nama Luhan.

“Maaf Nona”

“Ne ?!” sahut Nara menoleh kaget dan sekejap menghapus air matanya.

“Apa anda melihat seorang pemuda memakai baju pasien datang kemari ?” tanya sang dokter.

“I..itu..mmm..” dilirikannya matanya ke arah Luhan, Luhan yang seketika menggelengkan kepalanya untuk menyuruh agar tidak memberitahukan keberadaanya.

“Sa..saya.. tidak melihatnya dok” jawabnya singkat, dan membuat sang dokter akhirnya kembali mencari pasiennya itu ke tempat lain.

“Pssst… cogyo.. Apa dokter itu sudah pergi ?” bisik Luhan pelan.

“Ne” Nara kemudian bangun dari posisi duduknya.

“Hah.. untung saja tidak ketahuan” ujar Luhan lega. “Terimakasih yah, karena kau sudah membantuku”

Nara membalas dengan sebuah anggukan, dan beberapa detik kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar lalu..  DEG, Nara yang nampak membeku memandangi sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.

“Kenapa.. telfonnya tidak di angkat ?” tanya Luhan heran.

Dengan penuh keraguan, Nara pun akhirnya menekan tombol terima, dan perlahan mendengar suara namja, yang membuat rasa perih itu kembali muncul di hatinya,

“Yoboseyo ? Nara-ya ?”

“Kai-ah” lirih Nara dengan gumpalan air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya.

“Kau sedang ada dimana ? Kenapa pergi tanpa bilang padaku ?” tanya Kai lembut.

Setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Nara, hingga membuat seorang namja yang ada di hadapannya nampak begitu terenyuh. “A..aku.. tadi pergi membelikanmu makanan, dan sebentar lagi.. aku akan segera kembali ke kamar mu” ungkap Nara berusaha menahan suara isak tangisnya.

“Arraseo.. kalau begitu, cepat kembali ne” ucap Kai yang kemudian menutup telfon itu, Kai yang dalam sekejap merubah ekspresinya menjadi serius.

Flasback 30 menit yang lalu, 

“Soojung-ssi, Kau sadar kan kalau aku ini sudah memiliki kekasih ?” jantung Kai yang saat itu terasa begitu bergemuruh saat yeoja ini baru saja menciumnya.

“Ne.. Aku tahu sunbae memang sudah memiliki seorang kekasih, dan aku juga tahu.. sejujurnya.. sunbae tak berani mengakui jika ada kejenuhan yang mulai sunbae rasakan pada Nara eonni”

“Soojung-ssi !! Kau jangan sembarangan bicara !”

“Kenapa..  kenapa sunbae masih saja mempertahankan Nara eonni ? Kenapa sunbae masih saja mempertahankan yeoja yang tak pernah peka dengan perasaan sunbae sendiri ?” ungkap Soojung dengan nada meninggi.

“Aku mempertahankannya, karena aku tak bisa meninggalkan begitu saja seseorang yang sudah kucintai selama 10 tahun !!!” bentak Kai begitu meluapkan emosinya.

Soojung mendudukan dirinya kembali di pinggir kasur, menatap mata sang namja dengan sorot matanya yang terlihat sendu. “Sunbae tahu.. kalau perkataan sunbae tadi, malah membuat sunbae nampak terlihat mengakui.. jika sesungguhnya sunbae memang ingin meninggalkan Nara eonni”

“Apa maksud mu Soojung ?!”

“Sunbae tak bisa meninggalkannya begitu saja.. karena sunbae terlalu takut untuk menyakiti perasaannya, takut merasa bersalah padanya, karena itulah tanpa sadar sunbae pun terus membohongi perasaan sunbae sendiri”

“Kumohon hentikan, kau sudah berbicara terlalu jauh Soojung”

“Perlahan sunbae akan menyadari.. menyadari jika perasaan yang sunbae rasakan pada Nara-ssi.. bukanlah sebuah perasaan cinta.. melainkan hanya sebuah perasaan beban yang tanpa sadar menyiksa batin sunbae sendiri” Soojung menatap wajah Kai dengan pilu, dan beberapa detik kemudian berbalik lalu pergi meninggalkan Kai.

Kai yang saat itu begitu membenci dirinya sendiri, rasa amarah itu ia layangkan pada hatinya yang tak sejalan dengan kemauannya, hatinya yang seakan terus membenarkan semua ucapan Soojung, tentang perasaanya kepada Nara.

Flashback end

.

Park Nara POV

“Aggashi, apakah anda baik-baik saja ?” detik itu aku tersadar, jika aku telah menangis lagi di depan namja ini, bodohnya aku, kenapa aku harus mempermalukan diriku sendiri di depan orang lain.

“A..aniyo, gwaenchana, maaf.. tapi saya harus segera pergi” ucapku yang tak menatap ke arahnya, lalu hanya pergi begitu saja untuk menutupi rasa maluku terhadap namja ini.

~Park Nara POV end~

.

Pukul 10.00 siang,

Nara mengatur emosinya sejenak, dan perlahan masuk ke dalam kamar tempat kekasihnya tengah dirawat, sesaat ia hanya terdiam, berusaha untuk menahan air matanya yang kembali mendesak ingin keluar,

“Waeyo ?” tanya Kai merasa cemas ketika melihat Nara hanya terdiam menatapnya.

“A..aniya..” ucap Nara yang kemudian medekat dan memeluk erat tubuh Kai seakan tak mau kehilangan sang kekasih. “Kai..”

“Ne”

“Kita.. akan selalu tetap bersama terus sampai kapanpun kan ? Seperti janji.. yang dulu pernah kau ucapkan”

DEG

Mengingat janji itu, seakan membuat bibir Kai berubah menjadi kelu, mungkinkah ia bisa menepati janji itu ? Ya.. hanya itulah yang saat ini ada dipikirannya.

“A..aku.. akan tetap selalu berada di sisi mu…” tutur Kai dengan raut wajahnya yang terlihat rumit, lalu membalas pelukan sang yeoja dengan erat. Nara.. yang kemudian menenggelamkan wajahnya dalam dekapan sang kekasih, menyimpan kegelisahan itu sendirian di dalam hatinya yang tengah terluka.

**

Tidak lama kemudian Nyonya Kim yang merupakan ibu dari Kai datang ke rumah sakit, datang dengan permintaan maafnya kepada Nara yang sudah direpotkan untuk menjaga anaknya semalaman.

“Hari ini.. biar bibi saja yang menggantikanmu menjaga Kai, Nara” tutur Nyonya Kim sedikit memaksa.

“Ne ? ba..baiklah.. kalau begitu.. aku akan berpamitan pulang dengan Kai sehabis jam makan siang nanti” ucap Nara  yang sesungguhnya masih ingin menemani Kai di rumah sakit.

.

“Aku pulang dulu ya Kai, nanti kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku saja, nanti aku akan langsung membawakannya kesini”

“Ne” angguk Kai mengusap lembut pundak kepala Nara. “Hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku kalau kau sudah sampai di rumah”

“Eum” angguk Nara tersenyum tipis.

**

Luhan POV

Aku tengah duduk sendirian di sebuah bangku taman rumah sakit, menikmati udara segar yang tentu saja tak akan bisa kudapatkan di dalam ruang kemoterapi yang sangat kubenci, hah.. aku jadi mengingat kembali gadis itu, seorang gadis yang bahkan namanya saja belum sempat kutanyakan, “Sebenarnya.. apa yang membuat gadis itu sampai menangis yah?” gerutuku sambil menengadahkan kepalaku ke atas langit, namun beberapa detik kemudian,

“Luhan-ssi.. akhirnya kau kutemukan juga eoh !”

“Eh, Dokter Kang” ucapku sambil menyengir kuda ke arahnya. Dokter Kang pun langsung mengomeliku dengan segala ocehannya yang hanya ditanggapi dengan anggukan-anggukan malas dariku, lalu dari jauh, kulihat seorang gadis tengah berjalan menuju ke arahku, berjalan disertai angin yang menerpa rambutnya yang panjang dan indah, gadis itu.. gadis yang kutemui di atap gedung.

“Luhan ! matamu melihat ke arah mana ?! saat ini Dokter sedang berbicara denganmu ?!” aku tak menghiraukan Dokter Kang dan hanya menatap gadis itu, hingga akhirnya ia pun berjalan melewatiku.

“Cogyo.. !”  panggilku yang membuatnya langsung menoleh ke arahku,

“Kau kan.. yang tadi ada di..” dari ucapannya, kurasa dia sudah berhasil mengingatku.

“Tunggu…” Dokter Kang sekejap menunjuk-nunjuk ke arah kami seperti ingin menebak sesuatu. “Kalian sudah saling mengenal ? Jangan-jangan sewaktu di atap tadi.. kalian bersekongkol untuk membohongi dokter yah ?”

“Aniyo ! Tadi itu, akulah yang sudah menyuruh nona ini untuk tidak memberitahukan keberadaanku” sambarku membela gadis yang sangat ingin kuketahui namanya ini,

“Aigoo.. itu sama saja dengan bersengkokol Luhan” lalu beberapa saat kemudian, kudengar seorang dokter nampak memanggil Dokter Kang, “Hah.. kenapa Dokter Choi memanggilku, Mm.. Nona, bolehkah saya minta tolong untuk menjaga Tuan Luhan sebentar agar tidak pergi”

“Yak Dokter Kang, memangnya aku ini anak kecil”

“Tidak apa-apa kan Nona ?” pinta Dokter Kang sekali lagi.

“I..iya, baiklah” aku sedikit terkejut saat Nona ini mengiyakan begitu saja apa yang diminta oleh Dokter Kang kepadanya. Lalu dengan seenaknya dokter kang pun pergi menghampiri seorang dokter yang tadi memanggilnya.

“Mian Nona, tapi kalau kau mau pulang, silahkan saja, aku janji tidak akan pergi kemana-mana” ucapku yang tak mau mengganggu aktivitas yeoja ini, hanya karena permintaan konyol Dokter Kang.

“Dokter itu sudah meminta tolong padaku, aku tidak enak jika pergi begitu saja” kulihat matanya tak berani menatap ke arahku, mungkin dia masih merasa malu karena tadi pagi aku melihatnya menangis.

“Yasudah, terserah padamu” ucapku yang sebenarnya merasa senang karena bisa berlama-lama dengan yeoja ini, “Oh iya, Perkenalkan, namaku Luhan” ku ulurkan tanganku kepadanya,

“N..ne.. Park Nara imnida” perlahan ia berani menatapku, sambil menjabat tanganku yang gemetar karena gugup dapat menggenggamnya, dan saat ingin melepaskannya, gelang yang terpasang di kedua tangan kami tiba-tiba saja tersangkut, dan membuat tangan kami tertahan satu sama lain,

“Aish, kenapa bisa tersangkut, se..sebentar nona, aku akan mencoba untuk melepaskannya” ku dekatkan tanganku agar bisa melihat bagian yang tersangkut, dan tanpa sengaja, aku malah menarik tangan sang yeoja hingga membuat wajahnya terpampang jelas di depan mataku, cantik.. hanya itulah yang saat ini ada dalam benak ku,

“Lu..luhan-ssi, gelangnya masih tersangkut” mendengar ucapan Nara sontak membuatku langsung tersadar, hingga datanglah Dokter Kang yang melihat ke arah kami dengan tatapan heran.

“Eheum.. Apa yang sedang kalian lakukan ?”

Setelah melihat ke arah tangan kami, dokter Kang pun segera membawakan gunting, walau akhirnya gelang kami berhasil terpisah, namun raut sedih muncul di wajahnya saat mengetahui gelang miliknya harus terputus.

Luhan POV end

.

“Terimakasih karena sudah bersedia membantu saya mengawasi Luhan, dan maaf karena saya sudah merusak gelang anda Nona” ungkap Dokter Kang yang berterima kasih sekaligus merasa menyesal.

“Tidak apa-apa Dok, kalau begitu saya pamit pulang dulu” Nara menganggukan kepalanya ke arah dokter Kang dan ke arah Luhan secara bergantian, lalu mulai melangkahkan kakinya pergi menuju pintu gerbang rumah sakit.

.

“Baiklah Tuan Luhan.. berarti sekarang sudah saatnya kau untuk memulai kemoterapi mu!”

“Iya, aku tahu” Luhan pun dengan terpaksa mengikuti perkataan sang dokter, dan di sela-sela perjalanannya menuju ruang kemoterapi,

“Dokter Kang, Kenapa tadi anda tidak memutuskan gelang punyaku saja” ujar Luhan yang masih dirundung persaan bersalah pada Nara.

“Karena dokter tahu.. gelang itu sangat berharga untukmu”

“Ne ?” Luhan pun menatap gelang tali berwarna cokelat yang tengah di genggamnya, walau memang berharga, tapi tetap saja, Luhan merasa tak enak karena sudah merusakan gelang milik Nara.

.

Di dalam bus, Nara terus memandangi gelang miliknya yang sudah terputus, gelang yang diberikan oleh Kai pada saat mereka masih SMA, tentu saja gelang itu merupakan benda yang juga sangat berharga untuk Nara.

.

Pukul 08.00 malam,

Walau Luhan masih terlihat lemas akibat kemoterapi yang baru saja dijalaninya, ia tetap berusaha untuk menuliskan sebuah surat yang selalu ia kirimkan pada adik laki-lakinya, adiknya yang sudah terpisah darinya semenjak perceraian orang tuanya 5 tahun yang lalu.

“Kau tahu.. hari ini hyung baru saja bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik, bahkan tetap terlihat cantik.. walau ia sedang menangis, andai saja hyung bisa melihat senyumannya.. pasti hyung akan semakin jatuh hati padanya, ne.. semoga saja.. bidadari itu besok datang lagi kerumah sakit ini.. karena hyung ingin sekali bertemu dengannya lagi”

Ditulisnya kalimat itu oleh Luhan dengan segores senyuman tipis di wajahnya, dan saat matanya melihat sebuah kalender yang terpajang di dinding, senyuman di wajahnya pun sekejap menghilang, Luhan yang hanya menggantungkan alat tulisnya di atas udara, menatap kosong selembar surat dengan tangannya yang terlihat gemetar.

.

~Ke esokan harinya~

Universitas Seoul, Di sebuah Kantin. Pukul 10.00 pagi.

Park Nara POV

aku menatap sepotong kimbap yang tergeletak di atas meja, rasa lapar yang kurasakan tetap tak menambah nafsu makanku pagi ini, apalagi disaat sendirian menunggu Jiyeon yang belum juga terlihat batang hidungnya, kulihat segerombolan yeoja datang menempati meja yang jaraknya tidak jauh dariku, dan salah satu diantara mereka terlihat sangat tidak asing, dia ada disana.. Yeoja bernama Soojung itu.

.

“Anyeonghaseyo” sapaku mendekati meja tempat yeoja itu duduk,

“Na..nara-ssi ?! A..anyeonghaseyo” kulihat sorot matanya nampak terkejut saat melihatku, kulemparkan senyum kepadanya, lalu mengajaknya untuk berbicara sebentar di meja lain,

.

“Aku tidak tahu, kalau ternyata kau juga kuliah di tempat yang sama denganku” ucapku pada Soojung yang terlihat sedikit menghindari kontak mata denganku.

“Apa.. Kai Sunbae belum bilang pada Nara-ssi, kalau aku juga berkuliah disini ? Kami berdua.. bahkan sudah sering bertemu dari beberapa hari yang lalu” kuremas ujung bajuku dengan kencang, mendengar ucapannya yang sekejap menusuk jantungku secara perlahan.

“Kau memanggil Kai dengan sebutan sunbae ?”

“Ne.. Kai sunbae sendiri yang menyuruhku untuk memanggilnya seperti itu”

“Ah geurae, ternyata.. kalian berdua memang cepat sekali akrab” gumamku tersenyum pahit ke arahnya.

“Apa jangan-jangan, Kai sunbae juga belum cerita kepada Nara-ssi, kalau kemarin aku menjenguknya di rumah sakit ?”

DEG

Aku berusaha menahan emosiku yang sudah terasa di ujung tenggorokanku, “Aniyo, Kai tidak memberitahukannya”

“Kenapa sunbae tidak memberitahukannya yah ? Apa mungkin.. Kai sunbae takut kalau Nara-ssi menjadi cemburu karena aku ?” perkatan yang keluar dari mulut yeoja ini sungguh membuat mataku mulai memanas.

“Soojung-ssi.. tanpa Kai memberitahukannya pun, sebenarnya aku sudah tahu kalau kemarin kau telah menjenguknya di rumah sakit” gumamku menahan air mataku.

“Ne ?! Lalu.. da..dari mana Nara-shi mengetahui hal itu? mu..mungkinkah…”

“Benar, saat itu aku tak sengaja melihat kedatanganmu, melihatmu yang dengan seenaknya saja mencium kekasihku, kenapa.. kenapa kau melakukan hal itu eoh ? Apa kau tidak memiliki perasaan bersalah sedikitpun karena telah mencium kekasih orang lain ?”

Kulihat ia terdiam dalam beberapa saat, sampai akhirnya segores senyuman tipis mengembang di wajahnya,  “Aniyo.. sedikitpun.. aku tidak memiliki perasaan bersalah padamu Nara-ssi”

“Neo jinja..”

Seketika Soojung mendekatkan wajah dinginnya ke arahku, “Kehadiran Nara-ssi di sisi sunbae lah, yang justru membuat sunbae menjadi tersiksa.. Ne.. itu karena selama ini.. Kai sunbae tak berani mengatakan.. kalau sebenarnya ia sudah mulai jenuh padamu Nara-ssi”

“Apa kau bilang ?!!” rasanya ingin kutampar mulut yeoja ini dengan keras, namun emosiku kembali harus tertahan, saat tiba-tiba saja temannya datang menghampiri kami.

“Soojung-ah, sudah waktunya kita masuk kelas, Kajja”

“Ah geurae, kalau begitu.. Aku pamit pergi dulu Nara-ssi, senang bertemu denganmu hari ini”,yeoja itu pergi dengan senyuman kemenangan di wajahnya, meninggalkan aku yang hanya bisa meneteskan air mataku, pengecut.. diriku memang sangat pengecut.

~Park Nara POV end~

**

~Rumah sakit, Pukul 11 siang~

“Luhan-ssi, sedang apa melamun sendirian di taman ? Seharusnya kau jangan terlalu banyak bermain di luar, cepat masuk ke kamarmu” titah Dokter Kang kepada pasiennya yang paling susah di atur,

“Tapi.. aku masih ingin menunggu yeoja yang kemarin” jawab Luhan dengan tatapan memelas.

“Aigoo.. dasar anak ini, daripada kau menunggu hal yang tidak pasti, bagaimana kalau kau ikut dokter saja, hari ini dokter akan mengisi acara seminar di sebuah universitas, kau pasti bosan kan berada di rumah sakit terus”

“Nde ? Memangnya tidak apa-apa jika aku ikut pergi dok?”

“Sudah tenang saja, asalkan Dokter Choi tidak tahu, itu tidak akan jadi masalah”

“Akhirnya aku boleh pergi dari rumah sakit juga, Hah.. Dokter Kang memang yang terbaik” seru Luhan nampak begitu senang, membuat Dokter Kang yang melihatnya pun menjadi terenyuh, apalagi ketika mengingat perkataan Dokter Choi kemarin siang di taman ini.

Flashback, 

“Aigoo.. kenapa Dokter Choi memanggilku, Mm.. Nona, bolehkah saya minta tolong untuk menjaga Tuan Luhan sebentar agar tidak pergi”

“I..iya, baiklah”

Kemudian dihampirinya Dokter Choi dengan langkahnya yang tergesa-gesa,

“Ada keperluan apa Dokter Choi memanggilku ?”

“Saya baru saja memeriksa hasil CT Scan milik pasienmu Luhan, dan sepertinya.. penyakit yang diderita Luhan.. berkembang lebih cepat dibandingkan penderita yang biasanya, anda harus segera mengambil tindakan… sebelum kondisinya semakin memburuk”

Flashback end

.

Akhirnya Luhan pun sampai di universitas tempat dimana Dokter Kang akan mengisi acara seminar, dirinya yang akhirnya merasakan kebebasan setelah terkurung hampir 3 bulan di rumah sakit. Ya.. Dokter Kang memang tidak ingin Luhan terlalu tertekan dengan kehidupannya di rumah sakit, ia hanya ingin Luhan bisa menikmati hidup dengan bebas, selayaknya manusia lain yang lebih beruntung darinya,

“Luhan-ssi, dokter memang membebaskanmu melihat-lihat universitas ini selama satu jam kedepan, namun ingat.. kau jangan terlalu banyak berjalan karena tubuhmu itu gampang lelah, ah.. dan jangan lupa minum obat yang tadi dokter berikan, Arraseo !!”

“Iya..iya aku mengerti, aish.. dokter Kang cerewet sekali”

.

Pukul 12.00 siang,

“Nara-ya, wajahmu terlihat pucat, kau baik-baik saja kan ?” tanya Jiyeon yang khawatir dengan keadaan temannya. Mereka saat itu baru saja keluar dari kelas.

“Ne, aku baik-baik saja” ucap Nara yang sesungguhnya tengah menahan rasa pening di kepalanya, ia berusaha untuk tetap berjalan seperti biasa, namun tak berapa lama pandangan matanya mulai memudar, hingga..

BRUK..

“Ya Tuhan, Nara-ya !, Nara-yaaa !” Jiyeon memanggil nama temannya dengan histeris, dan sekejap membuat orang-orang langsung datang mengerumuni untuk menolong.

Diantara kerumunan itu terdapat seorang namja yang nampak begitu terkejut, Luhan yang tak menyangka harus bertemu dengan bidadarinya lagi di kondisi seperti ini, disaat sang yeoja sedang tergulai lemas tak sadarkan diri di hadapannya.

“Biar saya saja yang membawanya ke UKS” sahut Luhan yang langsung menggendong tubuh Nara menuju ke UKS, beserta dengan Jiyeon yang mengikutinya dari belakang.

.

~Ruang UKS~

“Apa kau mengenal temanku Nara ?” tanya Jiyeon kepada Luhan.

“Waktu itu.. kami tidak sengaja pernah bertemu di suatu tempat” Luhan menoleh sebentar ke arah Jiyeon, lalu kembali memfokuskan matanya ke arah Nara yang tengah di periksa oleh seorang suster.

“Mmm.. apa aku boleh minta tolong.. untuk menitipkan Nara kepadamu, soalnya.. ada keperluan keluarga yang saat ini tidak bisa aku tinggal”

“Ne, tentu saja” sambut Luhan dengan senang hati.

.

~Di Sebuah Rumah sakit~

Kai melihat ke arah jam dinding, menunggu seorang yeoja yang siang itu belum juga menjenguknya, lalu diambilnya ponsel dari atas meja yang terletak di sebelah kasurnya, dan sekejap mengubungi Nara yang semenjak pagi tidak memberikannya kabar sama sekali,

Tut..tut..tut..

“Ada apa dengannya, kenapa dia tidak mengangkat telfon dariku ?” gumam Kai mengerenyitkan dahinya.

**

Selama hampir satu jam, Luhan terus menemani Nara yang masih terbaring lemah di atas kasur, memandangi wajah sang yeoja yang saat itu terlihat memerah akibat demam.

Luhan ingin menyingkirkan surai rambut yang menutupi dahi Nara, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Nara mulai membuka matanya secara perlahan.

“Nara-ssi ? Kau sudah sadar ?” suara Luhan membuat Nara langsung terbangun dan mendudukan dirinya begitu terkejut.

“Kenapa aku bisa ada di UKS ? dan.. Kau kan ? kenapa kau juga bisa ada di sini ?” tanya Nara nampak terlihat seperti orang yang kebingungan.

“Tenang dulu Nara-ssi, aku akan menjelaskannya” Luhan pun mulai menjelaskan semuanya kepada Nara, termasuk menjelaskan mengapa ia bisa sampai ada disini.

.

“Terimakasih.. karena Luhan-ssi sudah menolongku”

“Ne, sama-sama” ungkap Luhan menggaruk tengkuknya malu-malu.

Nara mengambil ponsel dari dalam tasnya, mendapati 20 misscal dari kekasihnya Kai yang tercantum di layar ponselnya, tentu saja hal itu membuatnya menjadi panik dan langsung mencoba untuk menghubungi kembali sang kekasih.

“Ottokhae.. Kenapa dia tidak mengangkatnya ? Apa dia marah padaku karena tadi aku tidak mengangkat telfon darinya ?” resah Nara dalam hati,

“Nara-ssi ada apa ?” tanya Luhan cemas.

Nara langsung memasukan ponselnya ke dalam tas lalu bergegas turun dari atas kasur, tiba-tiba saja badannya terhuyung dan untungnya Luhan berhasil menahan bahunya.

“Nara-ssi, kau tidak apa-apa ? sebaiknya kau jangan bangun dulu”

“Aniyo, aku harus segera menjenguk Kai di rumah sakit sekarang” gumam Nara melepas tangan Luhan yang tengah menahannya, namun hanya selangkah ia berjalan, dirinya pun kembali terhuyung dan membuat Luhan langsung mendudukannya di atas kasur.

“Nara-ssi, bagaimana bisa kau menjenguk seseorang, tapi kau sendiri saja sedang sakit”

Nara hanya terdiam, merasakan kepalanya yang terasa begitu pusing akibat suhu tubuhnya yang masih tinggi,

“Sebaiknya kau pulang dulu untuk beristirahat ne, nanti biar kucarikan taksi untukmu” setelah berpikir sejenak, Nara pun akhirnya menuruti perkataan Luhan.

.

Setelah Luhan berhasil mendapatkan taksi, dirinya pun mengantarkan Nara menuju ke gerbang kampus, saat di perjalanan, seseorang nampaknya tengah memperhatikan mereka dari jauh, memperhatikan Nara dan Luhan dengan tatapan penuh prasangka.

.

“Terima kasih dan maaf karena sudah merepotkanmu” ujar Nara membungkuk kan badannya.

“Aniyo, gwaenchana.. lagipula, hal ini kulakukan sebagai permintaan maafku, karena kemarin sudah merusak gelang milikmu”

“Ne ? itu kan bukan kesalahan Luhan-ssi, jadi Luhan-ssi tidak perlu merasa bersalah”

“I..iya baiklah” gumam Luhan sambil tersenyum lucu, “Eoh.. sebaiknya kau cepat masuk kedalam taksi, nanti demammu semakin parah”

“Ne.. Kalau begitu, aku pulang dulu Luhan-ssi”  ucap Nara tersenyum tipis ke arahnya.

Deg

Senyuman tipis itu membuat jantung Luhan berdebar begitu kencang, senyuman yang baru pertama kali dilihatnya semenjak pertama kali Luhan bertemu dengan sang yeoja.

“Eo..oh.. hati-hati dijalan Nara-ssi”

Taksi itu pun akhirnya sudah tak terlihat dari pandangan Luhan, Luhan yang saat itu langsung berjongkok, merasakan sakit pada ulu hatinya yang sudah ia tahan semenjak tadi.

**

Saat Dokter Kang menjemput Luhan diparkiran mobil, ia melihat wajah Luhan yang sudah terlihat begitu pucat, tentu saja Dokter Kang langsung tahu jika Luhan pasti lupa meminum obatnya.

“Luhan, kenapa kau itu selalu~ saja tidak menuruti apa yang dokter perintahkan kepadamu” omel Dokter Kang yang tengah menyetir mobilnya.

“Iya aku minta maaf Dok, lain kali aku tidak akan mengulanginya” tutur Luhan menundukan wajahnya.

.

Di dalam taksi Nara terus mencoba untuk menghubungi Kai, namun lagi-lagi tidak ada jawaban yang di dapatkannya. Hati Nara yang begitu diselimuti perasaan gelisah, ditambah lagi ketika ia kembali mengingat ucapan Soojung mengenai perasaan Kai terhadapnya, Nara yang tetap berusaha untuk menepis semua prasangka buruk yang ada di dalam benaknya.

**

Pukul 04.00 sore,

~Rumah Sakit~

“Aish.. aku tidak bisa mencharger ponselku karena stop contactnya terlalu jauh” Kai menatap kesal ponselnya yang telah mati, namun karena ia ingin sekali menghubungi Nara, dirinya pun nekad turun dari kasur dengan bertumpu pada kaki kanannya, perlahan Kai berpegangan pada sisi meja, hingga..

Duk…

“Aaah” Kai meringis kesakitan akibat pergelangan kaki kirinya yang di perban tak sengaja terbentur meja. Kai lalu mendudukan dirinya di lantai, untuk sejenak meredakan rasa nyeri di sekitar pergelangan kakinya.

Tok..tok..tok..

“Masuk saja” Sahut Kai menatap ke arah pintu.

SRAK… pintu geser itu terbuka, menampakan seorang yeoja yang langsung terkejut saat melihat Kai nampak terduduk di atas lantai,

“Kai sunbae !” Soojung seketika berlari menghampiri Kai, lalu membantunya untuk berdiri dan mendudukan Kai di atas kasur.

“Ada perlu apa kau datang kesini ?” tanya Kai sedikit ketus sambil menolehkan wajahnya ke arah Soojung yang duduk di sebelahnya.

“N..ne ? Kenapa sunbae berbicara seperti itu ? Apakah aku bahkan tak boleh menjenguk sunbae ?”

“Kedatanganmu.. hanya akan menambah banyak masalah, jadi sebaiknya kau tidak usah datang kemari”

“Sunbae takut.. jika Nara-eonni sampai cemburu karena aku ada disini ? tapi.. kurasa.. hari ini Nara-eonni tidak akan datang, Ne.. karena tadi siang, aku melihat Nara eonni berjalan dengan seorang pria keluar dari kampus”

“Apa maksudmu dengan menyampaikan hal seperti itu eoh ?”

“Menurut sunbae.. kenapa aku sampai memberitahukan hal ini ?”

“Asal kau tahu.. Aku tidak akan marah padanya.. hanya karena dia berjalan dengan seorang pria, tentu saja karena aku sangat mempercayainya”

“Mempercayainya ?  Hah.. padahal Nara eonni saja sampai tidak sempat menjenguk sunbae karena berjalan dengan pria itu”

Kai langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dirinya yang seakan mulai terjerat kembali oleh perkataan yeoja ini, apalagi ketika mengingat Nara yang tadi siang tidak kunjung mengangkat telfonnya,

“Geumane.. aku tidak mau mendengar ucapanmu lagi, jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, sebaiknya kau cepat pergi dari ruangan ini”

Betapa sakitnya hati Soojung ketika melihat sikap Kai yang begitu dingin kepadanya “Sebenarnya.. tujuan utamaku datang kesini.. hanya ingin menyampaikan kepada sunbae, kalau aku sudah melaporkan Minho ke kantor polisi, melaporkan semua tindakan yang sudah ia lakukan kepada sunbae” ungkap Soojung menatap mata Kai dengan sendu.

~Kai POV~

Entah mengapa aku dapat merasakan ketulusan dari sorot matanya untuk ku, Ne.. betapa kerasnya yeoja ini ingin membuat diriku bisa terlepas dari kebimbangan ku kepada Nara, berusaha untuk membuatku lebih jujur akan perasaanku, tapi aku takut.. karena semakin aku jujur terhadap perasaanku, itu sama saja aku membenarkan semua yang telah di ucapkannya.

“Kalau Kai sunbae memang menginginkan aku untuk pergi, baiklah.. aku akan pergi” Soojung perlahan bangun dari posisinya, dan saat ia mulai melangkah, tanpa sadar tanganku ini sontak menahan kepergiannya.

“Jangan pergi.. aku belum mengucapkan terimakasih untuk mu.. terimakasih karena kau sudah menjenguk ku, dan terima kasih.. karena kau selalu memikirkan perasaanku Soojung-ssi” aku dapat merasakan tangannya yang gemetar di dalam genggamannku, dirinya pun kembali menghadap ke arahku, menatapku dengan matanya yang sudah berkaca,

“Maafkan aku sunbae.. maaf karena aku sudah menyukaimu, aku juga tidak mengerti kenapa aku begitu menyukaimu, karena menyukaimu.. aku jadi tidak ingin melihatmu menderita.. karena itu aku ingin kau jujur pada perasaanmu, sungguh.. aku tak bermaksud untuk merusak hubungan sunbae dengan Nara eonni”  air matanya mulai jatuh membasahi wajahnya, aku yang tak tega melihat tangisannya pun, mulai menarik tubuhnya perlahan ke dalam dekapan ku.

“Gwaenchana Soojung-ssi, jeongmal gwaenchana..” ucapku menepuk-nepuk bahunya pelan.

**

Sudah semenjak siang Nara tertidur lelap di atas kasurnya, menstabilkan suhu tubuhnya dengan mengistirahatkan badannya sejenak. Tidak lama kemudian, Nara pun terbangun dari tidurnya, dilihatnya jam yang sudah menunjukan pukul 05.00 sore, dan hal pertama yang di ingatnya saat itu tentu saja adalah Kai, Ya.. Nara yang seketika kembali mencoba untuk menghubungi sang kekasih.

Tut…tut..tut..

“Yoboseyo, ada apa Nara ?” betapa leganya Nara saat akhirnya Kai mengangkat telfon darinya.

“Kai-ah.. tadi siang aku menelfonmu, tapi kau tidak mengangkatnya,  apa kau marah padaku.. karena sebelumnya aku tidak mengangkat telfon darimu ?”

“Aniya.. tadi siang baterai ponselku habis, dan aku lupa menchargernya”

“Oh begitu, syukurlah.. ku kira kau marah padaku,  mianhae.. karena tadi siang aku tidak datang menemui mu ke rumah sakit, mm.. kalau kau butuh sesuatu, aku bisa membawakannya untukmu sekarang ke rumah sakit”

“N..ne ? Gwaenchana.. seharian ini.. a..ada ibu ku di rumah sakit, jadi kau tidak perlu khawatir” Kai yang nampak terdengar sedikit panik.

“Ne.. Aku bisa tenang kalau begitu, yasudah.. aku tutup telfonnya yah, besok.. aku janji akan membawakan makanan kesukaanmu ke rumah sakit, Aku mencintaimu Kai”

“Na..nado” balas Kai meremas ponselnya kuat, lalu memutuskan sambungan telfon itu.

.

Seorang yeoja datang menghampiri Kai, Soojung yang memberikan sepotong kue kepada Kai di atas piring kecil, “Kue ini.. tadi kubeli saat di perjalanan menuju rumah sakit”

“Gomawo” ucap Kai tersenyum hangat, senyuman yang disertai dengan hatinya yang juga masih memikirkan Nara.

**

Pukul 08.00 malam,

“Bukankah sudah saya katakan pada Dokter Kang, kalau kondisi Luhan saat ini sedang menurun, tapi kenapa kau malah membawanya ke luar rumah sakit ?!” bentak Dokter Choi begitu emosi.

“Saya sungguh minta maaf Dokter Choi” Dokter Kang membungkukan badannya hingga 90 derajat.

“Lain kali, jangan melakukan hal yang justru akan membahayakan nyawa pasienmu sendiri, Arraseo !” ujar Dokter Choi yang sekejap melangkah pergi meninggalkan Dokter Kang yang begitu merasa bersalah .

Dokter Kang menghampiri Luhan yang tengah tertidur dengan selang infus di tangannya, Ne.. Pasiennya ini memang tak pernah mau menunjukan jika dirinya tengah sakit, semangat hidupnya yang tinggi, membuat Dokter Kang begitu ingin menyembuhkan Luhan dari kanker hati yang di deritanya, dan betapa marahnya ia pada dirinya sendiri, ketika ia harus rela menghadapi sebuah kenyataan, bahwa Luhan memang belum mengalami kemajuan apapun dari pengobatan yang dijalaninya selama ini.

“Dokter” lirih Luhan yang terbangun dari tidurnya.

“Ne, Luhan”

“Tadi.. aku bermimpi bertemu dengan yeoja itu, bahkan di mimpiku.. dia terlihat sangat cantik”

“Aigoo.. sepertinya.. kau sangat menyukainya eoh” ucap Dokter Kang tersenyum pilu.

“Ne.. aku sangat menyukainya.. tapi.. mengapa perasaan suka ini.. malah membuatku semakin takut dok”

“Apa yang kau takutkan Luhan ?”

“Bagaimana.. jika sebentar lagi aku meninggalkan dunia ini.. dan tak bisa bertemu dengannya lagi Dok”

“Luhan-ssi, kenapa kau berkata seperti itu eoh ?! Dokter janji akan menyembuhkanmu.. kau pasti sembuh Luhan”

“Dokter tidak boleh.. menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dokter tepati”

Dokter Kang meremas ujung jas bajunya dengan kuat, menundukan wajahnya dengan segala perasaan pilu dihatinya.

.

Ke esokan harinya, Pukul 06.00 pagi

Di kediaman keluarga Park,

 Nara menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan, dan dilihatnya Nyonya Kim yang saat itu tengah mengobrol dengan ibunya.

“Anyeonghaseyo” sapa Nara kepada Ibu Kai.

“Nara-ya, kau bangun pagi-pagi sekali” ujar ibu Kai terlihat kagum.

“Iya bi.. pagi ini aku mau masak bibimbap untuk Kai” jawab Nara tersenyum hangat.

“Aigoo.. Nyonya Park.. saya jadi tidak sabar untuk mengangkat Nara menjadi menantu ku” sahut Ibu Kai yang di sambut dengan gelak tawa dari ibu Nara,

Nara yang hanya tersenyum-senyum sendiri mendengar percakapan orang tuanya dengan ibu Kai, lalu mulai berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya.

“Ommo.. Sepertinya bibi harus segera berangkat ke kantor sekarang, soalnya bibi sedang banyak kerjaan, kemarin saja bibi sampai harus berada di kantor selama seharian penuh, kalau begitu, bibi berangkat dulu yah Nara”

“Ne.. hati-hati dijalan bi” Nara membungkukan badannya, lalu perlahan kembali memotong bahan-bahan makanannya dengan wajahnya yang nampak termenung,

“Kai.. membohongiku lagi”

**

~Rumah Sakit~

“Taraa.. aku membawakan bibimbap kesukaan Kai” Nara kemudian menaruh kotak makananya di atas meja dengan wajahnya yang riang,

“Gomawo ne” balas Kai tersenyum manis sambil menggengam tangan Nara.

“Ne”

“Eoh ? Bukankah.. biasanya kau selalu memakai gelang pemberian dariku ?” tanya Kai yang saat itu merasa sedikit aneh.

“I..itu.. karena tadi aku terburu-buru, aku jadi tidak sempat memakainya” ucap Nara mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Ah.. geurae” balas Kai menganggukan kepalanya.

“Oh iya Kai, Bagaimana kalau kita makan bibimbapnya di taman saja, nanti biar kubawakan kursi roda untuk mu”

“Ne, baiklah” jawab Kai menyetujui dengan senang hati, dan saat Nara keluar dari ruangan untuk mengambil kursi roda, Kai seketika mengubah ekspresinya dengan cepat, ia yang seperti kembali mulai curiga dengan Nara.

.

~Sebuah taman di Rumah Sakit~

“Masakan bibimbap buatanmu.. memang yang paling enak Nara” ungkap Kai yang saat itu tengah duduk di kursi roda berhadapan dengan Nara yang duduk di bangku taman.

“Kau sudah mengatakannya berkali-kali Kai” Nara pun tersenyum menanggapi pujian dari sang namja,

.

“Jadi namja itu yang namanya Kai” gumam Luhan melihat pemandangan itu dari balik jendela koridor gedung rumah sakit,

“Yak Luhan, kau sedang memperhatikan apa eoh ?” Dokter Kang pun mengikuti arah pandang Luhan, “Ah~ Dokter mengerti sekarang, sudahlah Luhan, mungkin namja itu hanya temannya”

“Aniya.. aku yakin.. namja itu pasti kekasihnya Nara” Luhan terus memandang ke arah jendela, rasa sedih yang Luhan rasakan begitu terpancar dari sorot matanya.

.

Senyuman di wajah sang yeoja pun mulai memudar, Nara yang akhirnya berniat untuk memberanikan diri, membicarakan hal yang semenjak kemarin terus berputar di otaknya,

“Kai-ah”

“Waeyo ?”

“Kemarin.. Aku bertemu dengan Soojung di kampus, dan Soojung bilang.. dia sudah lebih dulu bertemu denganmu dari beberapa hari yang lalu, kenapa.. kau tidak mengatakannya kepadaku Kai ?”

“Ne ? a..aku.. aku bukan tidak ingin mengatakannya padamu, hanya saja.. aku belum sempat membicarakannya kepadamu Nara”

“Aku tahu.. kemarin kau juga berbohong kepadaku Kai, kau bilang ibumu seharian menjagamu di rumah sakit, tapi ternyata.. ibumu mengatakan kepadaku, kalau kemarin ia berada di kantornya selama seharian penuh”

“Na..nara-ya.. itu.. aku”

“Apa karena kemarin Soojung menjengukmu, karena itu kau tidak mau aku datang” ungkap Nara dengan matanya yang mulai berkaca.

“Nara-ya.. apa kau sedang menuduhku berse.. hah.. jinja.. lalu jelaskan padaku, siapa namja yang kemarin berjalan denganmu eoh ?”

“Na..namja ? aku tidak mengerti maksudmu Kai ?”

“Namja yang membuatmu tak mengangkat telfon dariku hingga puluhan kali”

“Ne ? Aku tidak mengangkat telfon darimu itu karena..” Nara yang tak mau mengungkapkan jika kemarin ia jatuh sakit pun malah semakin menambah rasa curiga pada Kai.

“Wae ? Kau tidak bisa menjawabnya ?” tanya Kai dengan nada yang ketus,

“Kai-ah, kenapa kau bersikap seperti ini padaku eoh ?” lirih Nara yang tak kuasa menahan air matanya.

“Kau saja tak bisa mempercayaiku, lalu.. untuk apa aku mempercayaimu eoh ?!” bentak Kai keras namun terdengar sedikit gemetar, Kai yang sesungguhnya masih tak rela melihat hubungannya dengan Nara menjadi seperti ini.

“Kai-ah.. kau bahkan tega mengatakan hal seperti itu kepadaku ?” air matanya semakin mengalir dengan deras, Nara yang meniliti dalam mata sang namja, berusaha untuk mencari sedikit cinta yang nampaknya mulai meredup dari sorot matanya.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi” Kai langsung memutar kursi rodanya dan meninggalkan Nara begitu saja, setetes air mata itu jatuh membasahi wajah Kai, Kai yang merutuk dirinya sendiri karena telah membentak yeoja yang paling disayanginya selama ini.

Nara menundukan wajahnya, menggigit bibirnya yang gemetar akibat rasa pedih yang begitu menyesakan dadanya, dan kristalan bening yang menghiasi wajahnya pun semakin menjelaskan betapa sakitnya hati Nara saat itu.

.

“Ottokhae.. Dia menangis lagi” gumam Luhan dari balik sebuah jendela, Luhan yang seakan bisa merasakan rasa perih yang dirasakan oleh sang yeoja pujaannya.

“Luhan-ssi, kau harus segera melakukan pengobatan herbalmu” sahut Dokter Kang datang menghampiri Luhan, lalu menarik tangan Luhan yang tetap saja tak melepaskan pandangannya pada Nara dari kaca jendela.

“Dokter” sahut Luhan menghentikan langkahnya, “Bolehkah.. aku meminta waktu sebentar untuk menemuinya” ditatapnya wajah sang dokter dengan tatapan penuh harap.

“Tidak bisa.. kau harus melakukan pengobatan herbalmu sekarang” tegas Dokter Kang.

“Tapi.. aku tidak tega.. jika harus meninggalkannya sendirian di saat ia sedang menangis” pinta Luhan meminta dengan sangat pada sang dokter.

“Aish.. arraseo, kuberi kau waktu 15 menit untuk menemuinya” ucap Dokter Kang yang entah mengapa selalu luluh dengan perkataan Luhan.

Luhan berlari dengan tergesa-gesa, begitu semangatnya Luhan hingga tak memperdulikan teriakan sang dokter yang memperingatinya untuk jangan berlari di koridor rumah sakit,

“Hosh… hosh..” Luhan berhenti di depan Nara dengan nafasnya yang tersengal-sengal, Nara yang kemudian mendongakan wajahnya begitu terkejut.

“Kenapa.. kau selalu saja hadir di saat aku sedang menangis  ?” tanya Nara terdengar parau.

“Aku.. juga tidak tahu kenapa” jawab Luhan dengan polosnya, lalu saling memandang satu sama lain dengan sang yeoja,

“Apa kali ini.. Luhan-ssi akan menyuruhku untuk berhenti menangis lagi ?” tutur Nara yang masih nampak terisak.

“Aniya.. Jika Nara-ssi ingin menangis.. menagislah.. luapkan saja semua yang tengah Nara-ssi rasakan saat ini” Luhan yang perlahan bertumpu pada kedua lututnya, menatap sendu wajah sang yeoja yang mulai kembali meneteskan air matanya.

 

TBC

Sebenernya ff ini mau author bikin jadi 2shoot aja, tapi berhubung author orang yang gak bisa nyingkat cerita, jadi author ubah jadi 3 chapter hehe.. mian kalo ceritanya boring dan gak jelas.. Keep RCL yo.. kritik dan saran sangat membantu..

Bow brg HunHan..

 

Advertisements

2 thoughts on “Painful Love chap 2

  1. Thor ff nya seru~ alur ceritanya juga keren 😉 kalo aku jadi nara sih aku mending pilih luhan 🙂 hihihih thor lanjut dong thor 😥 udah berapa bulan nih ff nya ngegantung, ayodong thor keep wraiting.. ff nya author tuh keren2 tapi sayang pada gantung 😥 yaa semoga author punya lebih banyak waktu ya thor buat lanjutin cerita-ceritanya.. Semangattt thorrrr 😉 :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s