The Name I Love Chap 16 Part A

the-name-i-love

The Name I Love Chap 16 Part A

Preview :

“Ini bukan kesalahanmu Claire.. kumohon jangan salahkan dirimu sendiri ne” ucap Sehun menggenggam kedua tangan Claire yang gemetar.

“Ayahmu akan membenciku Sehun.. Ayahmu akan membenciku kalau mengetahui aku adalah anak dari pemilik perusahaan Whitson Corp”

“Tidak Claire.. kau tenang saja, ayahku adalah orang yang sangat baik, dia tidak akan membencimu” gumam Sehun yang langsung menarik Claire kedalam pelukannya agar sang yeoja dapat tenang.

 

**

Sebuah bus terlihat baru saja menurunkan kedua orang penumpang di sebuah halte pemberhentian, kedua penumpang yang tidak lain adalah Sehun dan Claire yang tengah berjalan menuju sebuah tempat, Sehun.. yang saat itu akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengajak Claire mengunjungi adiknya di rumah sakit.

.

~Di sebuah kedai buble tea~

“Claire.. kenapa masih terlihat murung begitu”, sahut Sehun yang baru saja mengambil dua pesanan buble teanya, kemudian mendudukan dirinya persis di sebelah sang yeoja.

“Aniya.. hanya saja.. aku masih merasa tak enak padamu.. karena hari ini aku menolak untuk menemui adikmu di rumah sakit” ucap Claire sedikit menundukan wajahnya.

“Tidak apa-apa Claire, sudah kubilang kan aku mengerti.. lagipula kalau kau pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan ayahku disituasi seperti ini, nantinya kau malah merasa tidak nyaman kan ?” ungkap Sehun mengusap sayang kepala Claire.

Claire menganggukan kepalanya, dan langsung memeluk lengan Sehun sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sang namja.

“Sehun”

“ne”

“Apakah.. keadaan Sehan sudah membaik ?”

“Eum.. semalam.. demamnya sudah mulai menurun, namun untuk beberapa hari ke depan, adikku masih harus dirawat di rumah sakit karena dokter perlu untuk mengawasi keadaannya”

“Begitu yah”

Selang beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja Sehun mengingat jika hari ini hasil pemeriksaan lab adiknya telah keluar, sontak raut wajahnya pun sedikit berubah karena merasa tak tenang dengan hasil pemeriksaannya.

“Kau pasti khawatir dengan Sehan yah ? sebaiknya.. sekarang kau temui adikmu saja di rumah sakit” ucap Claire sedikit mendongakan wajahnya dan perlahan melepas rangkulannya pada lengan sang namja,

“Sebenarnya aku memang khawatir pada adik ku.. tapi.. saat ini aku ingin menemanimu dulu, hanya 30 menit~ saja.. sampai jarum jam di dinding itu mengarah ke pukul 02.00 siang, setelah itu aku akan segera menyusul Sehan ke rumah sakit”

“yasudah kalau begitu” gumam Claire pelan, kemudian tangan kiri Sehun pun menarik kepala Claire agar kembali bersandar di bahunya, begitupun dengan Claire yang perlahan kembali memeluk lengan kanan Sehun dengan erat.

“Claire.. kau harus menepati janjimu.. untuk terus berada disisiku ne” ujar Sehun yang seketika membuat Claire nampak terdiam sejenak, merasakan bibirnya yang terasa kelu bersamaan dengan kedua matanya yang mulai terasa memanas,

“Ne, Aku janji” jawab Claire terdengar sedikit gemetar, ia yang sejujurnya merasa tak yakin dengan apa yang ia ucapkan, hatinya yang terus diselimuti oleh perasaan takut.. jika ia sampai tak bisa melawan kehendak ayahnya.

.

.

“Claire, apa aku boleh meminta nomor ponselnya Tuan kim ? setidaknya kalau aku punya nomor Tuan Kim… aku bisa bertanya mengenai kabarmu saat dirumah” ungkap Sehun yang saat itu tengah menemani Claire menunggu taksi di pinggir trotoar.

“Arraseo.. sini berikan ponselmu” setelah Claire selesai menyimpan nomor Tuan Kim di ponsel Sehun, akhirnya tak lama kemudian taksi yang sedari tadi ditunggu pun datang menghampiri mereka.

.

“Nanti.. kau tidak perlu membicarakan masalah penggusuran itu pada ayahmu ne.. aku tak mau.. kalau kau sampai dimarahi oleh ayahmu hanya karena membelaku” ungkap Sehun sesaat sebelum Claire masuk ke dalam taksi.

Claire tak memberikan jawaban apapun dan hanya menunjukan segurat senyuman manis dibibirnya, “Aku pergi sekarang ne”

Sehun menganggukan kepalanya lalu mengeluarkan sebuah jepitan rambut berwarna biru yang kemudian ia pasangkan pada surai rambut sang yeoja, dirinya pun sedikit mendekat untuk mengecup kening Claire sekilas, “Hati-hati di jalan ne”

“Eum, kau juga hati-hati dijalan” jawab Claire menatap lembut kedua mata Sehun dengan wajahnya yang sedikit merona, kemudian ia masuk ke dalam taksi dengan tangannya yang masih digenggam oleh Sehun.

“Sehun, aku mau menutup pintunya”

“Iya aku tahu” gumam Sehun terkekeh kecil sambil melepaskan tautan tangannya dengan hatinya yang sedikit merasa sedih, mereka pun saling melempar senyuman satu sama lain dari kaca jendela, hingga akhirnya raut wajah Sehun perlahan mulai merubah ketika taksi itu mulai melaju pergi, Sehun.. yang entah mengapa seperti memiliki sebuah firasat tak menyenangkan yang membuat hatinya menjadi begitu cemas.

“Claire.. kenapa aku merasa begitu takut melihatmu pergi ?”

**

Claire POV

“Berhenti disini saja Pak” ucapku yang kemudian langsung turun dari dalam taksi di depan sebuah gedung perusahaan yang tidak lain adalah perusahaan milik keluargaku.

Ya.. walaupun Sehun sudah mengatakan agar aku tak perlu lagi membicarakan masalah penggusuran ini pada Ayahku, tapi tetap saja aku tak bisa membiarkannya.. apapun yang terjadi.. aku akan tetap berusaha untuk melindungi keluarga Sehun.

.

.

“Aku ingin menemui ayahku” ucapku pada seorang pegawai laki-laki yang menahanku di depan pintu ruang kerja ayah.

“Maaf nona, tapi saat ini Tuan Ahn sedang..”

Tanpa mendengarkan ucapannya aku pun langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang kerja ayah, ayahku yang terlihat begitu terkejut saat melihat kedatanganku yang  sepertinya sedikit mengacaukan kegiatan rapat dengan beberapa kliennya.

“Claire ? kenapa kau bisa ada disini ?!” bisik ayahku yang langsung terbangun dari posisi duduknya.

“Aku ingin bicara dengan ayah !”

“Apa kau tidak lihat, sekarang ayah sedang mengadakan rapat ! sebaiknya kau menunggu di luar dulu arro !”

“Shiroo.. Aku tidak mau, aku ingin bicara dengan ayah sekarang juga !”

“Yak.. neo..”

“Tuan Ahn.. bagaimana kalau rapat kali ini kita sudahi saja dulu, lagipula tadi kita sudah selesai membicarakan masalah kerjasama bisnis diantara perusahaan kita kan ?”

“Maafkan saya Tuan Jonghyun, karena rapat hari ini harus ditutup dengan situasi yang tidak sopan seperti ini”

“Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti” gumam laki-laki paruh baya itu, yang seketika mengangguk pamit lalu pergi dengan 2 rekan kerja yang lainnya.

.

.

“Kau kesini ingin membicarakan masalah penggusuran itu ?” tanya Tuan Ahn duduk behadapan dengan anaknya di sebuah sofa yang ada di ruangannya.

“Memangnya ayah pikir aku akan membicarakan masalah apalagi ?”Aku mengepalkan tanganku kencang untuk menahan emosiku, berusaha untuk tetap tenang walau hatiku ini diselimuti oleh rasa amarah yang begitu besar.

Ayahku memalingkan wajahnya sambil tertawa dengan seringaian licik di wajahnya,

“Sekarang kau rasakanlah akibatnya.. bukankah dari dulu ayah sudah mengatakan padamu.. kalau ayah itu tidak pernah main-main”

“Ayah pikir aku tak bisa melakukan apapun, Aku.. aku bisa saja menjual semua saham-sahamku untuk membantu membayarkan pembebasan persengketaan tanah di distrik itu”

“Asal kau tahu Claire.. kau tidak bisa menjual semua saham-sahammu begitu saja, saham itu memang dibawah namamu, tetapi semua kendali tetap ada pada ayah, terlebih lagi.. semua rekening atm milikmu sudah ayah tutup.. karena itu.. bagaimanapun caranya kau tetap tidak akan bisa membantu keluarga miskin itu, dan lagipula..”

“Apa menurutmu.. keluarga namja itu akan tetap menerimamu.. setelah mereka mengetahui.. kau adalah anak dari seseorang yang akan menggusur rumah mereka ?”

Kalimat yang dilontarkan ayahku sontak menusuk jantungku begitu dalam, aku.. yang saat itu akhirnya menyadari tujuan ayahku yang sebenarnya, ayahku yang selama ini hanya ingin membuat keluarga Sehun menjadi membenciku, membuat hubunganku dengan Sehun menjadi semakin terhalangi oleh semua pihak.

“Apa ayah Sehun.. sudah mengetahui jika ayahlah yang telah membuatnya dipecat ?”

“Ne, ayah pemuda itu sudah mengetahui semuanya.. beserta dengan alasan mengapa ayah sampai melakukan hal ini padanya..  ayah yakin.. saat ini ayah dari pemuda itu pasti sudah menyuruh anaknya untuk menjauhimu”

Kedua sudut mataku mulai digenangi oleh air mata, mungkinkah.. Sehun juga sudah mengetahui semuanya dan menyembunyikan semua itu dariku ?.

“Ada satu hal menarik yang belum ayah beritahukan kepadamu.. beberapa hari yang lalu, Ayah memberi sebuah penawaran pada orang tua namja itu.. jika ayah dari pemuda itu setuju untuk memisahkanmu dengan anaknya.. maka ayah akan memberikannya uang imbalan.. dan tentu saja.. uang itu bisa digunakan oleh keluarganya yang miskin itu untuk membeli tempat berteduh yang baru kan ?”

“A..ayah.. memberi penawaran seperti itu pada ayahnya Sehun ?”

“Ne, ayah rasa.. penawaran itu.. bukanlah sebuah pilihan yang sulit, karena ayah yakin.. kau.. pasti juga bisa menebak kan.. pilihan mana yang akan diambil oleh ayahnya.. dan jika kau memang sayang pada keluarganya.. kau juga bisa memilih pilihan yang sudah ayah berikan padamu Claire”

Setetes air mata itu akhirnya mulai mengalir di wajahku, bibirku gemetar, berusaha menahan rasa sakit yang begitu menyiksa tenggorokanku,

“Ayah memang hebat.. jika sudah menggunakan kelemahan orang lain untuk mendapatkan apa yang ayah inginkan, Sepertinya… aku juga perlu.. untuk belajar melakukan hal yang sama.. seperti apa yang ayah lakukan kepadaku”

“Apa maksud dari ucapanmu itu Claire ?!”

“Tunggu saja.. sampai aku dapat membuat seseorang yang ayah sayangi.. perlahan-lahan berbalik menjadi sangat membenci ayah” ucapku penuh penekanan bersamaan dengan air mataku yang kembali mengalir, dan saat aku berniat untuk pergi dari ruangan, dengan cepat ayah menyuruh kedua pegawainya untuk menahan kepergianku.

“Ayah tidak akan membiarkan mu pergi.. sampai pengawalmu datang menjemputmu, ayah akan menyuruhnya untuk langsung membawamu pulang ke apartemen”

Karena tak bisa melawan, akhirnya aku pun mendudukan diriku kembali di atas sofa yang ada di ruang kerja ayah, kuperhatikan raut wajah ayahku yang seperti tengah memikirkan seseorang. Memikirkan anak kesayangannya kah ? pemikiranku itu sontak membuat kedua sudut bibirku pun menaik, tersenyum dengan pahit dengan dihiasi oleh perasaan benci yang sudah tertanam begitu dalam di hatiku.

Claire POV end

**

Pukul 03.00 sore,

~Universitas Seoul~

“Eonni.. sudah ne.. jangan menangis lagi.. melihatmu menangis.. membuatku jadi ingin menangis juga” ucap Sona yang saat itu tengah duduk bersama dengan Seohyun di bangku taman yang ada di halaman kampus.

“Andai saja.. dulu aku tahu kalau Sehun juga mencintaiku.. aku pasti akan langsung membalas cintanya.. dan tak akan kubiarkan Sehun sampai dimiliki oleh yeoja lain” ungkap Seohyun dengan air matanya yang sudah membasahi wajahnya.

Karena tak tahu harus berkata apa, Sona pun hanya bisa menggenggam tangan Seohyun untuk sekedar membuat hati sahabatnya itu menjadi lebih tenang,

“Kenapa hari itu aku harus menerima Suho menjadi kekasihku.. harusnya aku tidak menerimanya.. harusnya aku tidak menerima namja jahat itu menjadi kekasihku”

Di sela-sela isak tangis yang masih terdengar dari bibir Seohyun, tiba-tiba saja seorang namja datang menghampiri bangku taman itu, membuat Seohyun langsung membulatkan matanya sempurna dan sontak terbangun dari posisi duduknya.

“Seo”

“Kau ? mau apa kau datang menemuiku eoh ? Pergilah.. aku tidak mau melihat wajahmu !”

“Seohyun-na.. Aku tahu kalau aku salah.. karena itu.. aku ingin minta maaf kepadamu.. Kumohon maafkanlah aku Seo” gumam Suho menatap lirih kedua mata sang yeoja.

“Maaf ? kau pikir aku akan langsung memaafkanmu dengan mudah ? aniya.. aku rasa aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu”

“Seohyun-na.. kumohon jangan seperti ini.. apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku eoh ? Aku.. aku akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkanku Seo”

“Kau bertanya apa yang harus kau lakukan ? ne.. yang perlu kau lakukan adalah segera pergi dari kehidupanku.. jangan pernah kau mencoba untuk menemuiku, menghubungiku, atau menunjukan wajahmu lagi di hadapanku.. karena hanya dengan melihat wajahmu.. membuat rasa sakit dihatiku ini semakin bertambah perih.. membuatku menjadi semakin benci kepadamu !” gertak Seohyun dengan matanya yang mulai terasa memanas.

Suho yang tersentak mendengar pernyataan itu pun hanya bisa meremas ujung bajunya kencang, hatinya yang terasa begitu sakit, saat harus melihat sorot mata penuh kebencian yang dilayangkan sang yeoja kepadanya.

“Suho-ya.. aku ucapkan terimakasih atas semua yang pernah kau berikan kepadaku, dan aku harap.. ini adalah pertemuan kita yang terakhir” tegas Seohyun yang seketika melangkah pergi bersamaan dengan Sona yang terburu-buru mengikutinya dari belakang, meninggalkan Suho yang saat itu hanya terdiam menatap kepergian Seohyun dengan hatinya yang terasa begitu remuk dan hancur.

.

“Seohyun-na.. jika kau merasa keberadaanku ini hanya akan menyakiti dirimu.. baiklah.. aku akan mulai berusaha untuk berhenti mengharapkanmu.. dan dengan begitu.. kau bisa kembali tersenyum dengan bahagia seperti dulu kan ?”

**

Sehun menggeser pintu kamar tempat dimana Sehan sedang dirawat, dan dilihatlah ke empat adiknya yang tengah berkumpul di sana, Sehan yang saat itu terlihat tengah duduk bersandar di atas kasurnya bersama dengan Nari.

“Hyung, kau dari mana saja ? Kenapa semalaman kau tidak pulang ? apa hyung sudah mendengar berita kalau lingkungan rumah kita akan segera digusur ?” sahut Dongho langsung menghampiri kakaknya dengan panik.

“Ne oppa, para tetangga dirumah juga sudah mulai terlihat resah, lalu kita harus bagaimana?”

“Dongho-ya.. Yoojung-ah.. kalian tenanglah sedikit, hyung sudah mendengar berita itu kok, kalian tidak perlu khawatir ne.. hyung pasti akan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini” ujar Sehun berusaha menenangkan adik-adiknya,

Sehun lalu berjalan ke arah Sehan yang tengah duduk di atas kasur, menempelkan telapak tangannya di dahi sang adik untuk mengecek suhu tubuhnya, walau suhu tubuh Sehan sudah mulai menurun, tapi ia masih merasakan demam di tubuh adiknya itu masih belum benar-benar sembuh.

“Sehan-na.. apa kau merasa pusing ?”  tanya Sehun dengan bahasa isyaratnya, Sehan pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil mengembangkan segores senyuman manis.

“Oppa… Kenapa Sehan oppa belum juga boleh pulang ke rumah ?” tanya Nari dengan ekspresinya yang terlihat sedih.

“Nari harus bersabar ne.. sebentar lagi dokter pasti akan segera memperbolehkan Sehan oppa pulang kok, sekarang.. Nari doakan saja supaya Sehan oppa bisa cepat sembuh” gumam Sehun mengusap sayang kepala Nari,

Dongho dan Yoojung pun ikut mengangguk-angguk ke arah adik kecilnya itu.

Sraaak.. tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, menampakan seorang laki-laki paruh baya yang seketika menunjukan senyum hangat di wajahnya,

“A..appa” gumam Sehun pelan.

“Appa, bagaimana dengan hasil pemeriksaan labnya ? apakah Sehan baik-baik saja ?” tanya Yoojung khawatir.

“Ne.. Tentu saja Sehan baik-baik saja” jawab sang ayah kepada semua anaknya sambil berusaha untuk tersenyum.

“Mm Hun-na.. bisakah kita keluar sebentar, ada sesuatu yang ingin appa bicarakan denganmu”

“Ne ?” Sehun terlihat sedikit terkejut, ia merasa jika raut wajah sang ayah seperti tengah memendam sesuatu, membuatnya menjadi merasa gelisah ketika mengingat jika perdebatannya dengan sang ayah memang masih belum terselesaikan kemarin malam.

**

~Di sebuah kedai di dekat rumah sakit~

“Appa mengajakmu berbicara disini, sebenarnya bukan untuk melanjutkan perdebatan kita yang semalam Hun” gumam Tuan Oh yang duduk dengan posisi berhadapan dengan anaknya.

“Mm.. Lalu… hal apa.. yang ingin Appa bicarakan denganku ?” tanya Sehun gugup.

“Ini.. soal Sehan”

“Sehan ?! A..ada apa dengannya  ?” tanya Sehun terlihat begitu khawatir.

“Sebenarnya.. hasil pemeriksaan laboratorium Adikmu itu.. menunjukan jika dia.. dia.. terdiaknosis terkena kanker hati Hun” ucap sang ayah terdengar gemetar menahan rasa sakit di tenggorokannya.

“Mwo ?! ta..tapi.. tapi tadi appa bilang..”

“Ne.. Awalnya ayah juga tidak bisa mempercayainya.. namun.. hiks.. namun dokter terus meyakinkan appa.. kalau tidak ada kesalahan dalam hasil pemeriksaan laboratoriumnya.. sungguh.. sejujurnya appa juga masih belum bisa menerimanya Hun-na”

Sehun hanya bisa terdiam membeku ditempatnya, tentu saja hatinya merasa begitu terpukul mendengar kabar ini, tapi walaupun begitu, dirinya pun tetap berusaha untuk terlihat tegar di depan ayahnya,

“Berapa… biaya yang dibutuhkan Sehan untuk penyembuhannya ? aku akan berusaha untuk segera mencari pinjaman uang secepatnya”

“Biaya operasinya.. mungkin sekitar 30 juta won, lalu untuk perawatan setelah operasi.. mungkin dibutuhkan biaya tambahan sekitar 20 juta won, lusa depan operasinya akan segera dilakukan, karena itu.. besok ayah sudah harus memenuhi biaya administrasinya”

Sehun mengeratkan genggamannya kencang, menyadari jika waktu yang dimilikinya terlalu singkat untuk mendapatkan uang sebanyak itu, belum lagi ia juga tengah terbebani oleh masalah penggusuran di lingkungan rumahnya, tapi ia mengecam dirinya sendiri untuk tidak boleh menyerah demi menyelamatkan nyawa adiknya.

“Ayah tunggu saja dirumah sakit.. sekarang.. aku akan segera pergi untuk mencari uang pinja..”

“Hun-na” sekejap Ayahnya memotong pembicaraan Sehun lalu menggenggam tangan anaknya dengan erat,

“Hun-na.. bagaimana.. kalau appa menggunakan uang perjanjian itu saja eoh ?”

“Nde ?!” Sehun terlihat begitu tersentak saat mendengar pernyataan sang ayah,

“Hun-na.. ayah mohon.. batas waktu perjanjiannya hanya tinggal besok… ayah tahu ini sangat berat untukmu.. tapi bisakah.. kau akhiri saja hubunganmu dengan yeoja itu.. ini semua demi menyelamatkan nyawa adikmu Sehun.. ayah sungguh sangat memohon kepadamu.. tinggalkanlah yeoja itu demi adikmu..” bujuk ayahnya terdengar begitu pilu, namun Sehun seperti tetap tak mau mendengarkannya, dan perlahan menarik tangannya dari genggaman sang ayah,

“Sepeser pun.. aku tak akan membiarkan Appa menggunakan uang itu, Ne.. bagaimana pun caranya.. aku pasti bisa mendapatkan uang untuk Sehan, karena itu ayah tidak perlu khawatir” ungkap Sehun menatap pedih kedua mata sang ayah, dan dalam sekejap bergegas pergi dari kedai itu,

“Sehun !!” teriakan sang ayah nampak tak di pedulikan oleh Sehun, Sehun yang hanya terus berjalan menjauhi kedai sambil menahan segala perasaan amarah yang begitu terasa bercampur aduk di hatinya. Hingga tak lama kemudian langkahnya terhenti di depan sebuah lampu lalu lintas, hanya terdiam menatap kosong ke arah depan, diantara orang-orang yang berlalu lalang disekelilingnya.

.

.

“Appa, kenapa kembali sendirian, Sehun oppa kemana ?” tanya Yoojung heran.

“Kakakmu sedang ada urusan, jadi tadi dia pamit untuk pergi kembali” jawab Tuan Oh mendudukan dirinya di sebelah Sehan.

“Ah, geuraeyo” gumam Yoojung sedikit curiga dengan pernyataan sang ayah, begitupun dengan Dongho yang nampak terdiam memikirkan hyungnya.

“Sebaiknya sekarang kalian antarkan Nari pulang kerumah, malam ini biar appa saja yang menemani Sehan di rumah sakit”

“Ne, baiklah” angguk Dongho yang kemudian membawa kedua adik perempuannya pulang ke rumah.

Setelah ketiga anaknya sudah meninggalkan ruangan, Tuan Oh seperti tidak mampu lagi menahan air matanya, hingga tanpa sadar setetes air mata itu pun lolos begitu saja dari pelupuk matanya,

“Kenapa appa menangis ?” tanya Sehan cemas dan dengan cepat Tuan Oh pun langsung menghapus air matanya.

Aniya.. appa tidak menangis Sehan” gumam sang ayah yang perlahan memeluk tubuh anaknya, memeluknya dengan erat bersamaan dengan kedua matanya yang kembali digenangi oleh air mata.

**

“Nona Claire”

Claire yang tengah tertidur di atas sofa sontak terbangun ketika mendengar suara seseorang yang seperti memanggil dirinya, ia sedikit mendongakan wajahnya, dan melihat wajah Tuan Kim yang saat itu tersenyum ke arahnya.

“Nona, sepertinya pengawal anda sudah datang” gumam Tuan Kim menyembunyikan raut wajah khawatirnya karena tak mau membuat nonanya semakin merasa tertekan dengan situasi yang terjadi.

.

“Dasar tak berguna !! Jika sekali lagi kau tak becus mengawasi anak ku, maka aku tak akan segan-segan untuk langsung memecatmu ARRASEO !!” saat Tuan Ahn baru saja ingin memukul kepala Jongin, tiba-tiba saja tangan Claire pun langsung menahan tangan ayahnya.

“Jongin-ssi, sebaiknya kau cepat mengambil mobil untuk mengantarkan ku pulang” gumam Claire tetap dengan ekspresi sinisnya.

“Ba..baik, Nona” Tanpa berlama-lama Jongin pun langsung mengangguk dan berlari menuju lift.

Sedangkan Tuan Ahn hanya tertawa pahit karena kesal dengan sikap anaknya yang seperti semakin berani melawan dirinya.

.

Para pegawai yang menjaga di depan pintu keluar gedung, seketika membungkukan badannya saat Tuan Ahn dan Claire berjalan melewati mereka.

“Claire, untuk yang terakhir kalinya ayah bertanya padamu.. siapa orang yang kau maksudkan itu eoh ?” tanya Tuan Ahn sebelum Claire masuk ke dalam mobilnya.

“Jika ayah memang peduli padanya.. aku yakin ayah pasti menyadari siapa orang yang aku maksudkan” jawab Claire menatap ayahnya datar.

“Kau !” Seketika emosi Tuan Ahn nampak kembali memanas, namun karena saat ini ia tengah berada di depan umum, dirinya pun berusaha untuk menjaga wibawanya di depan para pegawai.

#Blam

Tanpa mengatakan apapun Claire pun langsung masuk ke dalam mobilnya, pergi meninggalkan ayahnya yang seperti mulai sedikit mencurigai siapa orang yang dimaksudkan oleh Claire.

“Apa jangan-jangan Claire sudah mengetahui tentang.. aniya.. istriku tidak mungkin memberitahukan hal itu kepada Claire.. ne.. Risa.. tidak akan tega membiarkan Claire sampai mengetahui hal itu.. ”

**

Pukul 06.00 sore,

~Di kediaman keluarga Lee~

Seohyun yang saat itu baru saja sampai di rumahnya, mendapati televisi di ruang tamunya tengah menyala tanpa ada yang menonton. Saat Seohyun baru saja ingin mematikan televisi itu, tiba-tiba saja ia melihat sebuah berita yang membuat dirinya sontak menjatuhkan remot tv yang tengah digenggamnya itu ke lantai.

“Penggusuran ? Bukankah.. daerah itu terletak di dekat rumah Sehun ?” Seohyun seketika mendengarkan berita itu dengan seksama, sampai akhirnya ia mendengar sebuah nama perusahaan yang seperti tak asing ditelinganya.

“Whitson Corporation ? nama panjang yeoja itu.. adalah Whitson kan ? ne.. i..ini semua.. ini semua pasti adalah ulah dari perusahaan milik keluarga yeoja itu” gumam Seohyun berbicara sendirian dengan rautnya yang terlihat emosi.

“Seohyun-na.. ternyata kau sudah pulang” ucap ibunya yang seketika berjalan keluar dari arah dapur, Nyonya Hana yang kemudian melihat anaknya yang tengah memperhatikan sebuah berita di televisi, berita yang menyebutkan sebuah nama perusahaan yang membuatnya jantungnya seakan terhenti dalam beberapa detik.

Nyonya Hana pun langsung mengambil remot tv yang terjatuh di atas lantai dan langsung mematikan televisinya. “Ommo.. lagi-lagi karena terlalu asik memasak, eomma sampai lupa untuk mematikan tv” gumam Nyonya Hana sedikit gugup.

“Seo ? A..ada apa.. kenapa memperhatikan tvnya terus ?”

“Ah.. aniyo.. tidak ada apa-apa” ucap Seohyun yang langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.

.

Seohyun terlihat mendudukan dirinya di pinggir kasur sambil meremas tangannya kencang, ia yang masih merasa begitu marah dengan sebuah pemberitaan yang baru saja ia lihat di televisi.

“Aku yakin yeoja itu pasti menyadari kan kalau rumah Sehun berada di dekat distrik itu, tapi kenapa dia membiarkan perusahaannya tetap melakukan semua ini ?”

“Andweyo.. Aku.. aku harus melakukan sesuatu.. aku tak akan membiarkan Sehun terus berhubungan dengan yeoja itu.. dasar gadis licik.. menggunakan Sehun hanya untuk membantu melancarkan rencana bisnis keluarganya”

Seohyun nampak berpikir sejenak, kemudian ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mengetikan sebuah pesan yang langsung dikirimkannya pada seseorang, sejenak ia meremas handphonenya sambil menghel nafas, lalu diperhatikannya sebuah foto dirinya bersama dengan seorang namja yang terbingkai dengan indah di atas meja riasnya.

“Sehun-na.. yeoja itu.. dia sama sekali tidak pantas memilikimu.. ne.. bagaimanapun caranya.. aku akan membuat dirimu kembali kepadaku.. kembali seperti dulu.. saat seluruh perhatianmu hanya tertuju kepadaku”

**

Pukul 07.00 Malam,

~Apartemen milik Claire~

Gambar Apartemen Super Mewah di Jakarta Daftar Harga 2014

“Claire.. kenapa wajahmu terlihat sedikit pucat ? apa kau merasa pusing ? ibu akan memanggil dokter jika kau merasa tidak enak badan” ucap Nyonya Risa memegang dahi anaknya yang tengah duduk di sebelahnya.

“Aku tidak apa-apa bu” jawab Claire singkat, ia yang saat itu tengah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya Risa, tadi siang saja, dia masih bisa membantah dan melawan ucapan ayahnya, bukankah itu artinya anakmu ini baik-baik saja” sahut Tuan Ahn dengan ketus.

Claire nampak tak menanggapi ucapan ayahnya dan hanya fokus menghabiskan makanan yang ada dihadapannya. Sedangkan Nyonya Risa hanya bisa terdiam menatap anaknya dengan cemas.

“Risa-ya.. tadi aku sudah menelfon Tuan Park, beliau bilang besok acara pertemuan akan diadakan jam 04.00 sore, dan sebaiknya… kau juga sudah menentukan pilihanmu Claire, karena besok adalah batas akhir kau bisa menyelamatkan keluarga miskin itu”

Untuk yang kedua kalinya Claire tetap tak mengatakan apapun, ia yang terlihat hanya sibuk menggerakan garpu dan sendok di atas piring seraya menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar.

“Yeobo.. bisakah kau berhenti mengungkit masalah itu ? Saat ini kita sedang berada di meja makan”

“Aniyo.. aku tidak akan berhenti sampai anakmu ini bisa menuruti perkataan ayahnya !” seketika Tuan Ahn bangun dan menyalakan televisi yang terletak tidak jauh dari meja makan, lalu sengaja membesarkan volumenya dengan kencang saat ia menemukan sebuah channel yang tengah memberitakan masalah penggusuran rumah di sebuah distrik.

“Yeobo cepat matikan televisi itu !” sahut Nyonya Risa dengan kesal.

“Kenapa ? Kau merasa terganggu ? ah.. atau anakmu itu yang lebih merasa terganggu ?” ucap sang ayah menoleh ke arah Claire.

Claire yang kesal pun langsung mencopot dan melemparkan alat pendengarannya ke lantai, lalu menatap ayahnya dengan sorot matanya yang lelah namun masih tersirat rasa amarah yang begitu besar,

“Percuma saja ayah membesarkan volume tv itu… apa ayah lupa.. kalau aku ini adalah seorang gadis yang tuli ?!”

Kalimat itu sontak berhasil membuat sang ayah langsung membeku ditempatnya, merasakan hatinya yang terasa sakit saat mendengar kalimat itu, kalimat yang mengingatkannya akan sebuah kecelakaan yang membuat dirinya kembali merasa begitu bersalah.

“Claire, kenapa kau mengatakan hal seperti itu ?” ucap sang ibu langsung memeluk tubuh anaknya pilu, Claire yang perlahan mulai menangis dengan suaranya yang terdengar sedikit terisak, lelah.. hanya itulah yang Claire rasakan saat ini.

Tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi, memecahkan suasana dingin yang saat ini tengah terjadi diantara Claire dan kedua orang tuanya.

Dengan langkah sigap, Tuan Kim yang sedari tadi menyaksikan perdebatan itu dari ruang dapur pun bergegas menuju ke arah pintu depan, Tuan Kim pun sedikit terkejut saat melihat kedatangan seorang pemuda yang ia bisa tebak pastilah ingin menemui nonanya.

.

.

Claire yang masih berada di dekat ibunya nampak memperhatikan Tuan Kim yang seperti tengah mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Walau ia kesulitan untuk mendengar percakapannya, tapi ia sadar kalau ada seseorang yang tengah datang ke apartemennya.

Dalam sekejap Claire langsung berlari menuju ruang tamu dengan harapan ia dapat melihat seseorang yang dicintainya, namun..

“Claire ?” gumam Suho terkejut saat melihat kedua mata Claire terlihat sembab disertai dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.

Suho berniat mendekati sang yeoja, namun langkahnya terhenti, saat melihat Nyonya Risa terlihat menghampiri Claire dan langsung memasangkan alat pendengar di telinga anaknya. Claire yang baru tersadar sontak menghadap ke arah ibunya dan menghapus air mata di wajahnya.

“Ah Suho-ya, paman minta maaf karena kau harus datang di saat seperti ini” sahut Tuan Ahn yang langsung mencoba untuk mencairkan suasana, “Tadi.. paman baru saja sedikit berdebat dengan Claire, tapi kau tidak perlu khawatir, karena itu hanyalah sebuah perdebatan kecil”

Penjelasan sang ayah pun membuat Claire nampak tertawa pahit, ayahnya yang kemudian mulai mempersilahkan Suho untuk duduk kembali di ruang tamu.

.

“Jadi.. Suho ingin meminta ijin untuk mengajak Claire pergi ?” tanya Tuan Ahn penuh dengan rasa curiga.

“Ne, tapi saya janji.. saya tidak akan mengajak Claire pergi terlalu lama”

“Begini Suho, sebenarnya.. bukan paman tidak memperbolehkanmu pergi bersama dengan Claire, hanya saja..”

“Ayah takut aku akan mempengaruhi Suho lagi ?” sambung Claire cepat.

“Ayah tidak sedang berbicara denganmu Claire”  ujar Tuan Ahn menatap sinis anaknya, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Suho.

“Suho-ya.. kalau memang ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada Claire, kau bisa kan membicarakan hal itu dengan Claire disini ?”

“Tapi..  yang ingin saya bicarakan adalah sebuah masalah pribadi, karena itulah saya merasa tidak nyaman.. jika harus membicarakannya disini”

“Sudahlah suamiku.. kenapa kau malah menghalang-halangi mereka berdua untuk bertemu ? Lagipula.. bukankah keluarga Park akan merasa senang kalau mengetahui hubungan Claire dengan Suho sudah kembali membaik ?” ungkap Nyonya Risa yang saat itu duduk di sebelah suaminya.

Tuan Ahn menghela nafasnya sejenak bersamaan dengan raut wajahnya yang terlihat masih berpikir,

“Apa orang tuamu tahu, kalau malam ini kau berniat pergi menemui Claire ?”

“Ne paman, sebelum berangkat, saya sudah memberitahukan hal ini kepada mereka, ayah juga mengatakan.. kalau saya harus berusaha untuk dapat mengambil hati Claire kembali” ujar Suho yang tiba-tiba menggenggam tangan Claire erat, tentu saja hal itu membuat Claire reflek menolehkan wajahnya begitu terkejut,

“Apa yang kau..” Suho langsung menginjak kaki Claire untuk mengisyaratkan agar sang yeoja tak perlu mengatakan apapun.

“Hah.. baiklah, paman mengijinkanmu, tapi kau hanya paman ijinkan untuk mengajak Claire pergi ke sebuah restoran yang ada di lobi apartemen ini, kau harus janji untuk tidak membawa Claire pergi keluar gedung ne”

“Ne saya janji” gumam Suho sedikit membungkukan badannya.

.

Setelah Claire dan Suho pergi, Nyonya Risa pun seperti mulai menanyakan sesuatu kepada Tuan Ahn,

“Tidak biasanya kau mencurigai secara terang-terangan seperti itu ? biasanya kau akan mengijinkan Claire pergi, lalu mengirimkan mata-matamu yang bernama Jongin itu untuk mengawasi Claire secara diam-diam”

Tuan Ahn tak menjawab dan hanya berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, mendudukan dirinya di atas bangku sambil mengambil ponselnya yang diletakan di atas meja, kurang lebih selama 5 menit Tuan Ahn nampak berbincang dengan seseorang, dan setelah selesai, Tuan Ahn langsung menyandarkan bahunya di kepala kursi sambil memijat kepalanya yang terasa pening,

“Ada suatu hal yang sepertinya membuatku curiga pada Jongin, entah mengapa semakin lama.. aku merasa kalau Jongin sepertinya sengaja melonggarkan pengawasannya pada Claire”   

**

“Kau lihat pelayan yang tengah berdiri di depan pantry, pelayan yang ada di dekat meja kasir, dan pelayan yang ada di depan pintu keluar restoran, aku yakin dia pasti sudah diperintahkan oleh ayahku untuk mengawasi kita berdua agar kita tidak kabur” gumam Claire yang sudah berada di restoran bersama dengan Suho.

“Ne ?! darimana kau bisa tahu ?”

“Apa kau tidak merasa sedari tadi mereka selalu mengawasi kita ? ketiga orang itu juga terlihat gugup saat aku membalas menatap mereka, terlebih lagi.. bagaimana bisa seorang pelayan terlihat tak melakukan apapun disaat restoran tengah ramai seperti ini ?”

“A..ayahmu.. benar-benar orang yang tidak mudah untuk dibohongi” gumam Suho sedikit gemetar.

“Suho-ssi, sebenarnya ada tujuan apa kau mau menemuiku ? Apakah.. kau mau menjelaskan mengenai masalah surat itu lagi ?”

“Mungkin itu salah satunya, tapi masalah utama yang membuatku ingin menemuimu adalah karena masalah proyek penggusuran yang baru saja kulihat di televisi, Claire.. apakah.. proyek penggusuran ini merupakan salah satu taktik yang digunakan oleh ayahmu untuk.. ?”

“Ne, untuk mengancamku agar aku mau menerima pertunangan itu” sambung Claire dengan raut wajahnya yang berubah menjadi sendu,

“Kau tadi menangis karena memperdebatkan masalah ini dengan ayahmu ?”

Claire memalingkan wajahnya ke arah lain, sambil berusaha untuk menahan air mata yang entah mengapa mulai kembali menggenang di kedua sudut matanya.

“Bisakah kau menceritakan semua masalah ini kepadaku, karena bagaimanapun juga.. aku masih menganggap Sehun sebagai sahabat terbaik ku Claire, aku tak ingin sampai terjadi sesuatu kepada keluarganya”

Claire menganggukan kepalanya, lalu mulai menceritakan semuanya dengan tidak ada satu pun yang ia lewatkan, menjelaskan semuanya dengan begitu mendetail, hingga akhirnya penjelasan itu menyisakan sebuah perasaan pedih yang begitu berkecamuk dihati Suho,

“Sehun.. adalah satu-satunya sahabatku yang selalu terlihat tulus kepadaku, tapi bodohnya aku malah memilih untuk menghancurkan persahabatanku sendiri hanya demi mendapatkan cinta dari seorang yeoja yang akhirnya tak bisa kumiliki, ne.. walau aku tak tahu Sehun masih bisa memaafkanku atau tidak, tapi kali ini aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku padanya.. aku ingin.. semuanya  dapat kembali seperti dulu lagi”

Claire mengembangkan senyum diwajahnya, ia yang terlihat tersentuh setelah mendengar rasa penyesalan yang diucapkan oleh Suho terasa begitu mendalam

“Dia pasti akan memaafkanmu Suho, kau lihat.. gantungan hias berbentuk bunga krisan yang ada di ponselmu, aku rasa ada sebuah alasan mengapa ia memberikannya padamu, ne.. kurasa bunga krisan itu memiliki sebuah arti yang sangat bermakna, karena itulah ia hanya memberikannya pada sahabat yang sangat berarti untuknya, kau.. adalah sahabat yang sangat berarti untuknya Suho”

Suho yang saat itu juga merasa begitu terharu mendengar pernyataan yang diucapkan Claire kepadanya, Ia yang kemudian membalas menatap Claire dengan lembut dengan menggantungkan senyuman hangat diwajahnya.

“Aku.. mungkin tidak mampu membantu membiayai pembebasan tanah untuk menghentikan penggusuran di distrik itu, biayanya pasti sangatlah besar, dan aku tidak mungkin di ijinkan oleh ayahku untuk mengambil uang hingga ratusan miliar, namun jika hanya membantu untuk membelikannya sebuah tempat tinggal yang baru, tentu saja aku masih bisa mengusahakannya”

“Gomawo-yo, sekarang.. aku bisa sedikit merasa lega, setidaknya saat Sehan sudah keluar dari rumah sakit, Sehun dan keluarganya tidak perlu sibuk mencari tempat tinggal”

“Nde ? Apakah saat ini Sehan sedang dirawat di rumah sakit ?”

“Ne, sudah beberapa hari ini.. Sehan harus dirawat dirumah sakit karena terserang demam yang tinggi”

“Kalau begitu.. mungkin besok aku akan langsung menjenguk Sehan ke rumah sakit, dan kalau kau mau.. besok kau bisa ikut bersamaku menjenguk Sehan”

“Sebenarnya aku ingin sekali ikut.. tapi… saat ini aku masih belum siap untuk berhadapan dengan keluarga Sehun.. karena itu.. titipkan saja salamku pada Sehan ne, tolong sampaikan padanya kalau aku sangat merindukannya”

“Eum, baiklah aku mengerti” gumam Suho yang menyadari raut wajah Claire berubah menjadi sedih, lalu mengarahkan pandangannya pada telapak tangan Claire yang terlihat gemetaran di atas meja,

“Claire”

“Ne ?”

“Kau tidak apa-apa ?”

“Eum, aku tidak apa-apa.. hanya saja.. aku..” Claire terlihat menggenggam tangannya sendiri, matanya terlihat mengerjap berusaha untuk menahan air matanya yang mendesak ingin keluar.

“Saat ini.. kau pasti merasa tak tenang.. karena besok kau sudah harus menentukan pilihanmu kan ? sebenarnya ini juga sulit untuk ku.. apalagi tadi kau mengatakan… kalau ayahmu akan terus mencelakai keluarga Sehun, jika kau tetap tak memilih untuk bertunangan denganku”

Claire menundukan wajahnya dan mulai mengusap air mata yang jatuh di pipinya dengan punggung tangannya,“Apa yang harus aku lakukan.. hiks.. apa yang harus aku lakukan Suho-ssi”

Suho nampak terkejut saat melihat Claire mulai terdengar menangis dengan terisak, terkejut karena untuk pertama kalinya ia melihat Claire terlihat begitu lemah, dirinya pun menyadari.. jika Claire tetaplah seorang yeoja biasa yang tak bisa menopang semua masalahnya sendirian.

“Kau tenang saja, mulai dari sekarang.. aku janji aku akan menjadi seseorang yang selalu ada untuk membantumu”

**

Pukul 11.00 Malam

“Yak Oh Sehun.. kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali bolos kerja ? dan sekarang.. tiba-tiba saja kau malah minta untuk mengambil gajimu lebih cepat” sahut seorang manajer restoran kepada seorang pegawainya.

“Maafkan saya pak, beberapa hari saya harus menjaga adik saya yang sedang sakit, karena itu saya tidak bisa berangkat kerja” jawab Sehun menundukan wajahnya di depan atasannya.

“Eoh ? Apa adik laki-lakimu yang paling kecil itu sedang sakit lagi ?”

“I..iya pak.. saat ini Sehan sedang dirawat dirumah sakit”

“Hah.. jadi begitu yah” Manajer itu menghela nafasnya dalam, setelah berpikir selama beberapa menit, akhirnya ia mengambil secarik amplop coklat dari sebuah laci, lalu memberikan amplop itu kepada Sehun.

“Ini.. gajimu bulan ini, dan juga gajimu bulan depan, semuanya ada satu juta won”

Sehun yang mendengarnya pun langsung membulatkan matanya sempurna karena terkejut, “Ga..gaji bulan depan ?”

“Ne, kau tenang saja.. aku tak akan mengatakannya pada bos”

“Te..terimakasih banyak pak.. saya sungguh berterimakasih pada anda” ujar Sehun langsung membungkukan badannya 90 derajat.

Sehun lalu berjalan menuju kamar mandi untuk melepas baju seragamnya, ia yang kemudian mendudukan dirinya di salah satu meja restoran, hanya ada Sehun sendirian disana, hal itu karena restoran tempatnya bekerja memang sudah tutup dari satu jam yang lalu.

“Waktu itu.. Claire juga duduk di meja ini kan ?” gumam Sehun tersenyum sendirian karena mengingat kenangannya dengan sang yeoja. Sehun pun menyandarkan bahunya dan hanya terdiam memandangi sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Uang di tabunganku hanya tinggal 3 juta won dan sisa uang beasiswaku cuma ada 2 juta won, ditambah dengan gajiku ini.. aish.. semuanya baru terkumpul 6 juta won” gumam Sehun menghela nafasnya panjang.

Drrrt…drrrt… merasakan ponselnya bergetar Sehun pun langsung mengambil ponsel dari dalam kantung celananya,

“Sehun-na.. sekarang kau ada dimana ? Appa sangat mengkhawatirkanmu, appa mohon jangan memaksakan dirimu nak.. karena bagaimana pun caranya.. kau tetap tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu”

Sehun nampak tertegun saat membaca pesan ayahnya, ia yang sebenarnya menyadari jika usahanya ini memang akan berakhir sia-sia, namun.. ia tak bisa kembali begitu saja pada ayahnya sekarang, apapun hasil akhirnya.. ia lebih memilih untuk kembali berusaha daripada harus menyerah begitu saja pada keadaan.

**

~Keesokan harinya, Universitas Seoul~

Pukul 08.00 pagi.

“Hei lihat itu.. dia sudah datang” bisik salah seorang mahasiswi pada temannya ketika Claire memasuki kelas,

Claire mengedarkan pandanganya keseliling arah, ia yang langsung merasakan jika tatapan teman-temannya nampak terlihat berbeda dari biasanya. Namun Claire nampak tak memperdulikannya, dan hanya mendudukan dirinya di meja barisan tengah, sambil terlihat memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.

.

Setelah dua jam berlalu, akhirnya mata kuliah yang di ikuti Claire telah berakhir, lalu tiba-tiba terdapat salah seorang mahasiswi yang datang menghampirinya dengan wajahnya yang terlihat gugup.

“Eung.. Claire-ssi”

“Ne, ada apa ?”

“Apa benar.. perusahaan milik keluargamu.. akan menggusur perumahan yang ada di sekitar daerah namhyeon ?” tanya mahasiswi bernama ji eun

“Ne ? I…itu..”

“Claire-ssi.. bisakah aku minta tolong padamu.. rumahku.. rumahku juga ada di dekat sana.. karena itu bisakah kau katakan pada orang tuamu.. untuk tidak menggusur perumahan di sekitar distrik itu..aku mohon kepadamu Claire-ssi”

Tentu saja Claire tak bisa menjawab permintaan itu, tanpa yeoja ini minta pun, Claire memang menginginkan agar proyek penggusuran itu dapat dihentikan.

“Claire.. ada seorang yeoja berseragam sekolah yang katanya datang mencarimu” sahut salah seorang teman sekelas Claire yang tiba-tiba memotong pembicaraannya.

“Mianhae Jieun-ssi.. sepertinya aku harus menemui seseorang dulu” ucap Claire bangun dari posisi duduknya.

“Ne, tidak apa-apa, kau temui saja orang itu dulu”

.

Ketika itu Claire langsung bergegas keluar dari gedung perkuliahan dengan di ikuti oleh pengawalnya dari belakang, matanya pun membulat dengan sempurna saat melihat seorang yeoja yang sangat ia kenali,

“Yoojung-ssi ?”

 

 

TBC

 

 

Hah.. sebenernya aku gak mau ngetbc in sampe di part ini.. tapi berhubung belum sempet nerusin yasudahlah daripada gak dipost2.. jadinya aku putusin untuk ngepost aja deh… maaf yah kelamaan.. dah gitu ceritanya nambah gak jelas lagi.. maaf sekali lagi kalo mengecewakan..

Bow brg Hun.. huaaaa si Han alias Luhannya udah gak di Exo lagi.. 😦 terus si Sehun harus bow sendirian dong… ah bodo amat apapun yang terjadi tetep Bow brg HunHan.. HunHan foreveeeeeeeeer… *authornya mulai gila..

 

Keep RCL ne ^^

10665298_852317078146251_628292142640402213_n

Advertisements

One thought on “The Name I Love Chap 16 Part A

  1. Sumpah thor, sebel bngt sama bpk ny claire, licik bngttt, grrr
    Bwt c claire nglawan dong thor, buka kedok bpk ny. Aissss ga sabar, kasihan liad cople hunclaire klo kyk gni, huhu
    D tunggu next chap ny thor, hwaiting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s