The Name I Love Chap 17 part A

the-name-i-love

 

 

The Name I Love chap 17 Part A

 

Suasana yang terasa di sekitar rumah Sehun nampak tak setenang biasanya, orang-orang yang tinggal di sekitar daerah itu, terlihat tengah sibuk bersiap-siap menghadapi penggusuran yang dikabarkan akan dilaksanakan siang ini.

“Oppa.. bagaimana kalau hari ini penggusurannya benar-benar akan dilaksanakan” gumam Yoojung cemas kepada kakaknya yang tengah mengawasi keadaan di depan rumah.

“Kau tenang saja Yoojung, untuk sementara waktu, kita kan bisa mengungsi dulu ke tempat penginapan yang sudah di sewakan Appa kemarin”

“Tapi tetap saja aku masih berharap kalau penggusuran ini tidak jadi dilaksanakan”

“Iya, oppa mengerti, sudahlah.. masalah ini tidak perlu kau fikirkan, sekarang kau fokus saja dulu pada urusan sekolahmu ne”

“hah yasudah aku mengerti” jawab Yoojung dengan nada terpaksa.

“Dongho-ya, Cepat selesaikan sarapanmu dan segera berangkat ke sekolah”

“Iya hyung aku sudah selesai kok” sahut Dongho terburu-buru keluar dari rumah sambil menggandeng tangan Nari.

“Mm Dongho, karena hari ini situasinya sedang tidak aman, sepulang sekolah nanti, kau ajak kedua adikmu itu pergi ke rumah sakit saja menemui Appa ne, kalau untuk urusan menjaga rumah, biar kakak saja yang melakukannya”

“Ne, aku mengerti hyung, nanti saat sudah sampai di rumah sakit, aku janji aku akan langsung memberitahukan kabar mengenai keadaan Sehan secepatnya kepada hyung”

“Ne, gomawo Dongho-ya” balas Sehun mengacak sedikit rambut adiknya, “Sudah sana.. sebaiknya kalian cepat berangkat, kakak tidak mau kalau kalian bertiga sampai datang terlambat ke sekolah”

“Iya, kalau begitu kami berangkat dulu” ucap ketiga adik Sehun dengan serempak.

“Hati-hati saat menyebrang jalan ne !” sahut Sehun melambai-lambaikan tangannya dari belakang, ia yang saat itu merasa begitu bersyukur karena ketiga adiknya nampak tak mengeluh dengan kondisi sulit yang tengah dialami oleh keluarga mereka.

**

Drrrt..drrrt..

Claire terbangun dari tidurnya saat merasakan ponsel yang tengah digenggamnya bergetar, diusapkan matanya beberapa kali, kemudian mulai membuka sebuah pesan yang tertera di layar ponsel milik Tuan Kim,

“Sehun” gumam Claire pelan, lalu segera membaca isi pesan itu dengan raut wajahnya yang terlihat cemas.

“Tuan Kim, ini saya Sehun.. maaf.. bolehkah saya meminta tolong untuk menyampaikan sebuah pesan kepada Claire, saya ingin memberitahukan, kalau hari ini saya tidak bisa masuk kuliah, tolong sampaikan padanya untuk tidak perlu mengkhawatirkan masalah penggusuran itu, karena saat ini saya sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru untuk keluarga saya”

Dalam seketika Claire segera berlari keluar dari kamarnya dengan mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan sang ayah.

“Ada apa nona ?” Tanya Tuan Kim menghampiri nonanya.

“Ayah dimana ?”

“Tadi pagi-pagi sekali, Tuan Ahn sudah berangkat ke kantornya”

“Ne ?!”

“Claire, ada apa ? kenapa kau terlihat panik begitu ?” sahut Nyonya Risa berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya saat mendengar suara keributan.

“Penggusurannya.. bagaimana dengan penggusurannya bu ?”

“Kau tenang saja, semalam ayahmu sudah bilang pada ibu, kalau hari ini proyek penggusurannya akan segera dihentikan”

“Benarkah ?” tanya Claire dengan sorot matanya yang masih terlihat tak tenang.

“Benar sayang, karena itu kau tidak perlu khawatir ne, ibu pastikan pemuda itu dan keluarganya akan baik-baik saja” ungkap Nyonya Risa berusaha meyakinkan Claire dengan menangkup wajah anaknya hangat, namun Claire pun hanya termangu dan tak mengatakan satu patah katapun kepada ibunya,

“Claire ? Kau tidak apa-apa sayang ?”

“Tidak.. aku tidak apa-apa bu.. justru saat ini aku merasa sangat lega…karena semuanya sudah berakhir” jawab Claire menatap lurus ke arah depan, berusaha mengontrol perasaannya sejenak, saat mengingat hari ini akan menjadi titik awal bagi dirinya, dimana ia harus mulai berusaha melepaskan bayangan sang namja dari pikirannya.

**

Pukul 11.00, siang,

“Baju dan surat-surat penting sudah kumasukan ke dalam koper, lalu apa lagi yah ?” Sehun melihat ke sekeliling kardus-kardus berisi barang penting yang sudah ia rapikan. Lalu ia mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras dari arah luar rumahnya.

“Iya iya tunggu sebentar” sahutnya berlari kecil.

#Ceklek.

“Eoh, ada apa Jongkook ajeushi ?! apakah penggusurannya sudah mulai dilaksanakan ?!” tanya Sehun terdengar panik.

“Tidak Sehun.. justru sebaliknya”

“Ne ? Apa maksudnya ?”

“Memangnya seharian ini kau belum menonton televisi ?”

Sehun bergegas keluar dari rumahnya untuk melihat situasi, dilihatnya kedatangan dua orang berpakaian jas hitam rapih dengan dikawal oleh beberapa polisi,

“Siapa mereka ?” tanya Sehun kepada Jongkook ajeushi yang merupakan salah satu tetangga terdekatnya.

“Mereka itu perwakilan dari perusahaan yang awalnya akan menggusur rumah kita, sepertinya tujuan mereka datang kesini hanya untuk memberitahukan informasi mengenai pembatalan penggusuran, hah.. entah mengapa ajeushi merasa kalau situasi ini terasa sangat ganjil, bukankah.. sebuah gugatan persengkataan tanah yang dibatalkan secara mendadak seperti ini jarang sekali terjadi ?”

“Benar.. situasi ini.. memang terasa sangat ganjil”

Sehun kembali masuk ke dalam rumahnya sambil sedikit memijit dahinya pelan, kemudian mendudukan dirinya di beranda rumah sambil mengetik nomor terlfon sang ayah di ponselnya.

#tut…tut…tut..

“Yoboseyo, Appa ?”

“Eoh Sehun-na, baru saja Appa mau menelfonmu nak”

“Ne, appa pasti mau memberitahukan kabar mengenai masalah penggusuran yang dibatalkan itu kan ?”

“Eo..eoh itu memang benar, appa takut.. kau kembali mencurigai appa, Sehun”

“Aniya.. kenapa Appa berpikiran seperti itu, tujuanku menelfon, sebenarnya hanya untuk memberitahukan kalau aku ingin menyusul appa ke rumah sakit, apa sekarang Sehan sudah mulai menjalani operasinya ?”

“Ne Hun-na, tadi sekitar 15 menit yang lalu, Sehan sudah masuk ke dalam ruang operasinya”

“Begitu yah.. baiklah.. mungkin sekitar setengah jam lagi aku akan segera menyusul ke sana, nanti aku akan membawakan baju ganti untuk appa”

“Bawakan juga baju ganti untuk adik-adikmu ne”

“Ne, aku mengerti appa, nanti akan kuhubungi lagi setelah aku sudah selesai bersiap-siap”

#PIK..

Saat sambungan telfon itu terputus, raut wajah Sehun pun perlahan kembali berubah menjadi gelisah, “Tenanglah Sehun.. operasi Sehan pasti dapat berjalan dengan lancar.. ne.. setelah operasi Sehan selesai.. aku pun akan segera menanyakan masalah pembatalan penggusuran itu kepada Claire”

**

~Universitas Seoul~

“Nona Claire.. kita sudah sampai” ucap Jongin menolehkan wajahnya ke arah Nonanya yang saat itu tengah melamun dan hanya terus menatap keluar jendela.

“Nona Claire ?”

“Ne ? Ah ne, ternyata kita sudah sampai yah” gumam Claire seketika melepaskan sabuk pengamannya karena terkejut.

Saat Claire baru saja melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil, dirinya pun kembali dikejutkan oleh kedua orang yeoja yang tiba-tiba saja datang dan berlari ke arahnya,

“Claire !!” Sahut Jieun dan Sona langsung memeluk tubuh Claire dengan erat lalu mengajaknya berputar-putar membentuk lingkaran bersama mereka.

“Yak Sona-ssi, Jieun-ssi.. aku pusing, jangan berputar-putar terus” mendengar hal itu kedua yeoja itu pun lantas melepaskan pelukan mereka dengan senyuman keceriaan.

“Kami sudah menunggumu semenjak tadi” gumam Jieun penuh semangat.

“Menunggu ku ?”

“Iya Claire, kami ingin mengucapkan terima kasih padamu atas pembatalan penggusuran itu,  berkat kau kami berdua terselamatkan” ungkap Sona tersenyum lebar.

“Sepertinya beritanya sudah menyebar yah ?” gumam Claire dengan ekspresi datarnya.

“Eum, tadi aku dan Jieun sudah melihat beritanya di televisi kampus, aku sungguh sangat senang saat mendengarnya Claire, terimakasih untuk semuanya ne, sampai kapanpun.. aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu”

“Ne, Aku juga sama, aku juga tidak akan pernah melupakan kebaikanmu” ucap Jieun yang seketika memeluk Claire kembali, begitu pun dengan Sona yang juga mengikutinya.

“Ish.. kalian berdua itu berlebihan sekali” gumam Claire memundurkan wajahnya dengan memasang ekspresi sinis, namun kedua yeoja itu malah tertawa dan akhirnya membuat Claire ikut melemparkan senyuman tipis ke arah mereka.

.

.

Selama mata kuliah berlangsung, Claire nampak hanya melamun dan tak memperhatikan sama sekali penjelasan Dosen yang tengah menerangkan materi perkuliahan di depan, pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal, yaitu memikirkan seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit.

“Sehan-na.. maafkan noona karena hari ini noona tidak bisa menemani mu di rumah sakit.. walaupun sekarang noona tidak bisa berada di sampingmu.. namun noona janji akan selalu melindungimu dari jauh.. dan akan selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu Sehan”

.

.

~1 jam kemudian~

Claire merapikan buku-bukunya ke dalam tas setelah mata perkuliahan itu selesai, sampai tak lama kemudian, orang-orang yang berada di dalam kelasnya pun satu persatu terlihat mulai berkumpul mengerubunginya.

“Ada apa ?” tanya Claire menaikan sebelah alisnya,

Jieun yang ikut berkumpul disana pun terlihat memajukan kakinya selangkah mendekati Claire.

“Begini Claire, tadi pagi.. semua teman-teman yang ada di kelas memintaku untuk menyampaikan sesuatu kepadamu.. mereka bilang.. mereka ingin meminta maaf padamu”

“Meminta maaf untuk apa ?”

“Kemarin.. mereka merasa kalau secara tidak langsung mereka juga ikut berperan dalam menyebarkan rumor tak menyenangkan yang ditunjukan kepadamu, karena itu mereka menjadi merasa sangat bersalah padamu Claire”

“Ne, kami sungguh minta maaf karena sudah mempercayai rumor itu Claire” seru orang-orang yang ada di sekeliling Claire secara bergantian.

“Kalian tidak perlu meminta maaf padaku, kalau aku jadi kalian.. kemarin aku pasti juga akan langsung mempercayai rumor itu kok” gumam Claire menanggapi hal itu dengan santai, dan membuat semua orang yang menatapnya menjadi terlihat bingung karena tak tahu harus bagaimana menanggapi pernyataan sang yeoja.

“Sudahlah.. dia tidak akan marah pada kalian, jadi kalian tidak perlu khawatir”

Kerumunan orang-orang yang mengelilingi Claire sontak menoleh ke arah kebelakang untuk mencari sumber suara yang baru saja mengatakan hal tersebut, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat kedatangan seorang namja yang merupakan orang paling terkenal di kampusnya.

“Suho-ssi ?” gumam Claire sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat Suho dari celah kerumunan.

“Kemana pengawalmu ?, aku tidak melihatnya di depan kelas” tanya Suho berjalan mendekat.

“Dia kusuruh menunggu di dalam mobil”

“Oh begitu” angguk Suho pelan,

“Ada keperluan apa ? kenapa datang ke kelasku ?”

“Mm.. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, tapi tidak disini, kajja kita bicara di belakang gedung saja” sebelum Claire menyetujui hal itu, Suho pun langsung menarik tangan Claire keluar dari dalam kelasnya, meninggalkan orang-orang yang terlihat hanya termangu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya heran melihat hubungan Claire yang terlihat sudah membaik dengan Suho.

“Aku sama sekali tidak mengerti, bukankah dulunya mereka bermusuhan ?” gumam Jieun yang seketika dibalas dengan anggukan dari teman-temannya yang terlihat heran.

**

“Aku ingin membicarakan hal mengenai Sehan kepadamu” ucap Suho sesaat setelah mereka sampai di belakang gedung perkuliahan.

“Eoh ?! jadi kau sudah mengetahui kabar terbaru mengenai Sehan ?” tanya Claire cemas.

“Tadi aku sudah menghubungi ayahnya, katanya saat ini dia baru saja masuk kedalam ruang operasinya” jawab Suho yang seketika membuat Claire nampak terdiam dalam beberapa saat.

“Aku tahu saat ini kau pasti sangat mengkhawatirkan Sehan, karena itu, nanti setelah operasi Sehan selesai, aku pasti akan segera memberitahukan hasil operasinya kepadamu melalui pesan yang akan kukirimkan lewat ponsel Tuan Kim”

“Ne, Gomawo-yo” lirih Claire pelan dan dibalas dengan sebuah anggukan kecil dari Suho, “Suho-ssi.. apa hanya itu saja.. yang ingin kau katakan kepadaku ?”

Suho menyandarkan punggungnya pada sebuah dinding, lalu mengarahkan kembali pandangannya ke arah Claire dengan raut wajahnya yang berubah menjadi sendu,

“Kapan.. kau akan memberitahukan semuanya kepada Sehun, Claire ?”

Claire sedikit menundukan wajahnya dan hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan,

“Mi..mianhae.. kau tidak perlu menjawabnya Claire, akulah yang terlalu bodoh karena sudah menanyakan hal seperti itu kepadamu” ucap Suho merasa begitu bersalah kepada sang yeoja.

“Tidak apa-apa Suho, memang sudah seharusnya.. aku harus segera memberitahukan hal ini kepada Sehun, hanya saja.. aku..”

“Ne.. Katakan saja kepadaku Claire”

“Hanya saja.. aku terlalu takut.. untuk memikirkan kalimat perpisahan apa.. yang nanti harus ku ucapkan kepadanya” ucap Claire sedikit terisak, bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir di wajahnya.

Tetesan air mata yang membuat Suho merasa begitu terenyuh saat melihatnya, ia pun hanya bisa mengusap bahu Claire pelan untuk sekedar menenangkan hati sang yeoja.

**

Tok..tok…tok..

“Nyonya Risa, ini saya, Tori”

“Ne, masuklah Tori” jawab Nyonya Risa mempersilahkan Nyonya Tori untuk masuk ke dalam ruangannya, Nyonya Tori yang saat itu membawa sejumlah berkas di tangannya.

“Ada apa Tori ?”

“Besok, saya berniat untuk pergi ke London Nyonya, sepertinya ada sedikit masalah yang terjadi di salah satu cabang perusahaan yang ada di kota London”

“Begitu yah”

“Ne, semenjak anda sudah tidak lagi menjabat sebagai pemilik perusahaan, ruang gerak saya dalam mengecek keadaan financial di setiap cabang perusahaan seperti sengaja di batasi oleh suami anda, hal itu.. pada akhirnya membuat saya menjadi sedikit mencurigai.. kalau suami anda… ah tidak .. seharusnya saya tidak mengatakan hal yang tidak sopan seperti ini kepada anda, maafkan saya atas kelancangan saya ini Nyonya”

“Tidak Tori.. sebenarnya aku pun juga merasakan hal yang sama sepertimu.. Aku juga merasa.. kalau suamiku seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apapun itu.. aku percaya.. bahwa suamiku tidak akan melakukan tindakan gegabah yang mungkin saja dapat menghancurkan perusahaan ini”

“Ne.. semoga saja keyakinanku itu tidak salah Tori” ucap Nyonya Risa melanjutkan kalimatnya di dalam hati.

“Anda benar Nyonya, seharusnya saya tidak perlu meragukan keahlian Tuan Ahn dalam memimpin perusahaan, sekali lagi maafkan saya atas ketidaksopanan ini”

**

Setelah baru saja selesai melakukan percakapan, Suho yang saat itu masih merasa khawatir kepada Claire pun terlihat mengantarkan Claire menuju ke parkiran mobil milik sang yeoja.

“Kau benar tidak mau kuantarkan pulang ?”

“Ne tidak usah, aku pulang bersama dengan pengawalku saja” ucap Claire menghentikan langkahnya tepat di depan mobilnya.

“Anyeonghaseyo Tuan Suho” ucap Jongin terburu-buru keluar dari dalam mobil, dan langsung membungkukan badannya kepada Suho,

“Ne, anyeonghaseyo” balas Suho menganggukan kepalanya, dan kemudian mengarahkan kembali pandangan ke arah Claire, “Sebelum kau pulang.. sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan kepadamu”

“Mengenai apa ?”

“Aku.. hanya ingin menanyakan saja, apakah.. kau tidak ingin mencari tahu.. siapa sebenarnya orang yang telah menghasut Yoojung, sehingga kemarin ia sampai melayangkan tuduhan seperti itu kepadamu ?”

“Aku tak perlu mencari tahu siapa orang itu, karena dari awal aku sudah mengetahuinya”

“Ne ?! darimana kau bisa langsung mengetahuinya ?”

“Seseorang yang bisa membuat Yoojung langsung mempercayainya.. pasti adalah orang yang sudah sangat dikenali olehnya kan, dan hanya ada satu orang yang sangat mengenal Yoojung di kampus ini selain kau dan kakaknya sendiri..”

“Seseorang yang mengenal..” Suho sekejap mengarahkan pandangannya ke arah Claire saat menyadari siapa orang yang dimaksudkan oleh sang yeoja,

“Kau sudah mengetahuinya ?”

“Ne, sepertinya aku tahu siapa yeoja yang kau maksudkan”

**

Pukul 02.00 siang,

~Di sebuah Rumah Sakit daerah Apgujeong~

“Eoh, Seohyun eonni” ungkap Yoojung langsung membungkuk memberi salam kepada Seohyun bersama dengan Dongho dan Nari, mereka yang saat itu tengah duduk menunggu jalannya operasi Sehan di ruang tunggu.

“Yoojung-ah.. setelah semalam kau mengirimkan pesan mengenai kondisi kesehatan Sehan kepadaku, seharian tadi perasaanku jadi tidak tenang, karena itu sepulang dari kuliah aku langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan adikmu”

“Maafkan aku eonni.. maaf karena pesanku itu malah jadi membuatmu khawatir, tadi Sehan sudah masuk ke ruang operasinya dari 3 jam yang lalu, namun sampai saat ini kami belum mengetahui lagi kabar terbaru mengenai kondisinya”

“Begitu yah.. Hah.. aku harap Sehan baik-baik saja” gumam Seohyun menghela nafasnya dalam.

Dari kejauhan terlihat seorang pemuda berjalan mendekati ruang tunggu beserta dengan seorang laki-laki paruh baya, pemuda itu seketika mengenali wajah seorang yeoja yang terlihat tengah berbincang-bincang dengan adik perempuannya.

“Eoh, Anyeonghaseyo” gumam Seohyun langsung membungkukan badannya saat melihat kedatangan Tuan Oh Jiho bersama dengan Sehun.

“Seohyun-na, sudah lama ajeushi tidak bertemu denganmu, pasti Sehun yang sudah memberitahukan padamu kalau Sehan sedang dirawat”

“Ah bukan ajeushi.. semalam Yoojung yang memberitahukan ku lewat pesan sms, karena itu hari ini aku berencana untuk ikut menunggu di sini sampai operasi Sehan selesai, ini.. Aku membawakan sedikit makanan dan minuman untuk keluarga anda”

“Aigoo.. kau bahkan sampai repot-repot membawakan makanan segala”

“Tidak apa-apa ajeushi”

“Sehun-na.. cepat kau bantu Yoojung membawakan barang bawaannya”

Sehun mengangguk dan langsung membantu Seohyun membawakan barang bawaannya, “Terima kasih.. karena Noona sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjenguk Sehan”

“Aku kan sudah biasa menjenguk Sehan, jadi kau tak perlu sampai berterima kasih seperti itu Sehun” jawab Seohyun merasakan adanya sebuah jarak yang seakan sengaja dibuat Sehun untuk dirinya,

Hal itu karena pertemuannya yang terakhir kali dengan sang namja memang masih menyisakan sebuah permasalahan, dimana Seohyun tahu kalau hari itu Sehun pasti menyadari bahwa dirinya kembali berharap pada sang namja, dan akhirnya membuat Seohyun merasa kalau hal itulah yang menyebabkan Sehun berubah menjadi kaku kepadanya.

“Seohyun-na, duduklah dulu.. kau pasti merasa lelah kan setelah perjalanan kemari” ucap Tuan Jiho yang kemudian di balas dengan senyuman manis dari Seohyun.

“Ne, terimakasih ajeushi”

“Sehun-na, kita duduk di sebelah Nari saja ne”

“Eum, baiklah”

Seohyun pun langsung menggandeng tangan Sehun berjalan ke tempat duduk Nari yang berada di barisan depan,

Di sisi lain, Tuan Jiho sebenarnya sudah menyadari jika anak tertuanya itu nampak terlihat murung semenjak datang ke rumah sakit, ia berpikir bahwa ada sesuatu hal yang saat ini pasti tengah dikhawatirkan oleh anaknya selain adiknya, dugaan itu tertuju pada sebuah masalah pembatalan penggusuran yang baru saja terjadi, beliau yakin.. hal itulah yang membuat anaknya nampak seperti tengah merenungi sesuatu.

“Sehun-na.. apa kau baik-baik saja ?” ucap Seohyun yang sedari tadi terus memperhatikan wajah Sehun yang terlihat pucat.

“Ne, aku baik-baik saja Noona” jawab Sehun menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya melalui lengkungan tipis yang menggantung di wajahnya, ia merasa tak tenang karena adiknya masih berada di ruang operasi, ditambah lagi hati kecilnya yang tetap tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa dirinya tetap tak bisa melepas rasa kekhawatirannya pada seorang yeoja yang sangat ia cintai.

**

Pukul 07.00 Malam,

~Apartemen milik Claire~

“Nona Claire.. makan malamnya sudah siap” sahut Tuan Kim mengetuk pintu kamar nonanya.

“Ne, tunggu sebentar Tuan” gumam Claire seketika menghapus air mata di pipinya, sembari memasukan surat-surat yang berserakan di atas lantai ke dalam sebuah kotak kayu.

.

Claire berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju ke arah meja makan, disana pun terlihat sudah terdapat ayah dan ibunya yang telah duduk menunggunya sedari tadi.

“Apa hari ini kau sudah mengatakan semuanya pada pemuda miskin itu ?” tanya Tuan Ahn sesaat Claire baru saja mendudukan dirinya di bangku meja makan.

“Aku tidak bertemu dengannya di kampus, karena hari ini dia sedang menemani adiknya yang tengah dioperasi di rumah sakit” jawab Claire datar.

“Kasihan sekali pemuda itu.. nasib keluarganya benar-benar sangat tidak beruntung” ucap Tuan Ahn seperti ingin menunjukan rasa ibanya di depan Claire, namun perkataannya itu tetap saja terdengar angkuh ditelinga sang anak.

“Ayah”

“Ne, Ada apa ?” gumam Tuan Ahn sambil meraih sendok dan garpu di atas piringnya berniat untuk memulai makan malamnya.

“Mengenai ancaman yang pernah aku ucapkan waktu itu, sebaiknya ayah lupakan saja.. karena aku sudah tidak berniat untuk melakukannya”

“Ah.. soal ancaman itu, hah.. ayah sama sekali tidak pernah menanggapi ancamanmu itu dengan serius Claire, karena ayah sudah menduga bahwa ancaman itu hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja kau buat untuk menggertak ayah semata” ungkap Tuan Ahn menaikan salah satu sudut bibirnya.

“Ne, ayah benar.. itu semua.. memanglah sebuah kebohongan yang sengaja aku buat untuk menggertak ayah” gumam Claire tanpa menunjukan emosi apapun.

“Walaupun begitu..  ayah harus mengakui.. kalau awalnya ayah memang sedikit takut dengan ancamanmu itu Claire.. hal itu karena.. ayah tak mengerti dengan maksud dan tujuanmu yang sebenarnya, mengapa kau mengucapkan kalimat itu kepada ayah” ucap Tuan Ahn merubah raut wajahnya menjadi serius, karena sesungguhnya ia masih belum menghilangkan kecurigaannya pada sang anak yang ia akui pintar dalam menyembunyikan sesuatu darinya.

Sang ibu yang mendengarkan percakapan itu pun terlihat penasaran dengan kalimat apa yang sebenarnya sudah diucapkan Claire kepada ayahnya.

“Tapi sekarang.. ayah sudah bisa sedikit tenang… karena setidaknya kau sudah mulai mau menuruti perkataan ayahmu Claire, persiapan pesta pertunanganmu nanti akan dilaksanakan selama dua hari ke depan, jadi pastikan untuk menjaga kesehatanmu sampai pesta pertunangan itu dilaksanakan ne”

“Ne, baik ayah”

.

.

Claire mengunci pintu kamarnya rapat setelah ia baru saja menyelesaikan makan malamnya, ia berjalan menuju meja riasnya, memperhatikan sebuah kotak kayu yang berisikan sekumpulan surat-surat pemberian seseorang dengan hatinya yang terasa pilu.

“Walaupun bibi sudah tak menyayangiku lagi.. tapi rasa sayangku padamu tidak akan pernah berubah.. ne.. jika aku melukai perasaan anakmu dengan membongkar semua kenyataan pahit tentang ayahnya.. maka satu-satunya orang yang akan merasa sangat terluka justru adalah bibi, aku tak akan pernah tega menyakiti perasaanmu bi.. aku tak akan tega.. meskipun bibi telah mencampakanku dan menyakiti perasaanku saat itu”

.

.

15 menit kemudian,

Drrrt… drrrt… Tuan Kim merasakan ponselnya bergetar saat ia tengah membereskan piring-piring kotor yang ada di atas meja makan, ia melihat ke layar ponselnya, dan sedikit terkejut saat membaca nama pengirim yang tercantum di dalam pesan itu.

“Pesan ini.. pasti dikirimkan untuk nona Claire”

.

Tok..tok..tok..

“Nona Claire, aku membawakan kue kesukaanmu Nona”

“Aku sudah kenyang Tuan, taruh saja kue itu di kulkas”

“Tapi.. kue ini sangat lezaaat Nona” ucap Tuan Kim menekankan suaranya hingga membuat ekspresi wajahnya menjadi lucu.

Claire mengernyitkan dahinya saat menyadari suara intonasi Tuan Kim terdengar sangat aneh, dirinya pun sontak beranjak dari atas kasur berniat membukakan pintu untuk Tuan Kim.

#Ceklek..

“Eoh, Nona” Tuan Kim mengarahkan bola matanya untuk memberikan kode, bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan di bawah serbet putih yang ada di atas nampan.

“Sepertinya aku berubah pikiran Tuan, kuenya memang terlihat sangat lezat” ucap Claire sambil melirikan matanya ke arah kamar ayahnya untuk mengecek situasi.

.

.

Claire mendudukan dirinya di pinggir kasur dengan menaruh nampan itu di pangkuannya, ia membuka sebuah serbet di sebelah piring yang berisikan kue cokelat, dan ternyata terdapat sebuah ponsel yang sengaja di sembunyikan oleh Tuan Kim disana,

“Ini.. pesan dari Suho” gumam Claire yang seketika langsung membaca pesan itu dengan cepat.

 “Claire ini Suho.. tadi sore aku sudah menanyakan keadaan Sehan kepada Tuan Jiho, beliau mengatakan kalau operasi Sehan dapat berjalan dengan lancar, namun saat ini.. Sehan belum bisa dipindahkan ke kamarnya karena ia masih butuh pengawasan penuh dari dokter, dan selama beberapa bulan ke depan.. Sehan masih harus menjalani beberapa terapi dahulu sebelum akhirnya ia dapat dinyatakan sembuh”

“Kalau nanti ada kabar terbaru mengenai Sehan.. aku janji aku akan langsung memberitahukannya padamu, bersemangatlah.. dan jangan bersedih lagi ne J

Terlukis sebuah lengkungan manis di wajah Claire saat ia akhirnya bisa sedikit melepas rasa khawatirnya pada Sehan,

“Syukurlah Sehan.. syukurlah operasimu dapat berjalan dengan lancar.. setelah ini.. noona akan berusaha membantumu sampai kau bisa benar-benar sembuh sepenuhnya”

**

~Di sebuah rumah sakit~

“Ajeushi, aku pamit pulang dulu ne, nanti setelah Sehan sudah siuman, tolong titipkan salamku padanya”

“Ne, Seohyun-na, terimakasih untuk semuanya hari ini, ajeushi akan sangat senang jika kau bisa sering-sering main ke rumah seperti dulu lagi”

“Arraseo ajeushi” angguk Seohyun tertawa kecil, “Semuanya, aku pamit pulang dulu ne”

“Ne, sampai jumpa lagi eonni” ucap Nari melambaikan tangan mungilnya.

“Oppa.. kau tidak mengantarkan Seohyun eonni pulang ke rumahnya ?” ucap Yoojung yang langsung mendapatkan senggolan kaki dari Dongho.

“Perkataan Yoojung ada benarnya juga Sehun.. sekarang kan sudah malam, sebaiknya kau mengantarkan Seohyun pulang” timpal sang ayah menambahi.

“Ah tidak perlu ajeushi, aku bisa pulang sendiri kok”

“Kalau begitu kutemani mencari taksi saja yah ?” gumam Sehun berjalan mendekati Seohyun,

“Eo..eoh, yasudah” jawab Seohyun mengangguk kecil.

.

.

Sebuah bus baru saja datang di sebuah halte yang terletak tidak jauh dari rumah sakit, beberapa dari orang yang ada disana pun langsung menaiki bus hingga akhirnya menyisakan Sehun dan Seohyun yang terlihat mulai merasa canggung satu sama lain di dalam halte.

“Sehun-na.. aku sungguh bersyukur.. karena operasi Sehan dapat berjalan dengan lancar” gumam Seohyun berniat mencairkan suasana diantara mereka.

“Walaupun operasinya dapat berjalan dengan lancar, sebenarnya operasi ini tidak bisa menjamin kesembuhan Sehan, dokter bilang.. ada kemungkinan kankernya bisa saja tumbuh kembali, karena itu untuk mencegah hal itu, Sehan masih harus melakukan terapi secara rutin selama beberapa bulan ke depan”

“Begitu yah, hah..Adikmu itu.. benar-benar anak yang sangat kuat Sehun, diumurnya yang masih semuda ini.. ia bahkan bisa berjuang melewati semua cobaan yang begitu berat”

“Kau benar noona.. adik ku memang anak yang sangat kuat.. karena itu aku yakin.. kalau adik ku pasti bisa segera sembuh” ungkap Sehun tersenyum hangat.

“Ne, Sehun.. aku juga yakin kalau Sehan pasti akan segera sembuh”

Percakapan itu berakhir saat sebuah taksi yang sedari tadi di tunggu akhirnya datang menghampiri, Sehun lalu membukakan pintu untuk Seohyun, namun Seohyun hanya terdiam seperti ingin mengucapkan sesuatu kepadanya,

“Sehun-na ?”

“Ne ? Ada apa Noona ?”

“Aku.. hanya ingin mengatakan kepadamu.. kalau sampai kapanpun.. aku akan selalu mencintaimu.. dan akan tetap terus menunggumu… apapun yang terjadi”

“Noo..noona”

Seohyun langsung membungkukan badannya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi, taksi itu pun mulai melaju meninggalkan Sehun yang saat itu hanya terdiam memandangi kepergian Seohyun dengan raut wajahnya yang terlihat sendu.

**

“Eoh, oppa sudah kembali !” sahut Nari berlari kecil menghampiri Sehun. “Oppa habis membeli apa itu ?”

“Oh ini, Oppa tadi baru saja membelikan kimbab untuk kalian semua ?”

“Wah hyung tahu saja kalau kita semua sedang lapar” ucap Dongho membantu membawakan kantung plastik hitam yang tengah di bawa oleh kakaknya.

“Mm.. Appa” panggil Sehun kepada sang ayah yang tengah duduk di sebuah bangku.

“Ne ?”

“Bisakah kita ke loby sebentar, ada yang sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Appa”

“Ne, tentu saja” jawab Tuan Oh tanpa berpikir panjang, memahami anaknya yang pasti tengah memendam sesuatu setelah seharian ini terlihat begitu murung. “Yoojung-ah.. Appa dan kakakmu ingin ke lobby sebentar, nanti kalau dokter memberitahukan kabar terbaru mengenai keadaan Sehan, tolong segera beritahukan kepada ayah ne”

“Iya, baik appa” angguk Yoojung cepat, ia terus memperhatikan ayah dan kakaknya yang tengah berjalan ke arah lift, dan perlahan raut wajah Yoojung pun berubah menjadi gelisah.

“Kalau besok Oppa pergi kuliah.. pasti Oppa akan langsung mendapatkan kabar kalau kemarin aku baru saja menemui gadis itu ke kampusnya, aduh bagaimana ini.. kalau oppa sampai mengetahui hal itu.. aku yakin Oppa pasti akan memarahiku habis-habisan”

**

~Di sebuah loby rumah sakit~

“Katakan saja apa yang saat ini ingin kau bicarakan kepada Appa, Hun-na” ucap Tuan Oh kepada anaknya yang tengah duduk di sebelahnya.

“Mm.. selama beberapa bulan ke depan.. aku tahu Appa pasti masih membutuhkan uang untuk membiayai perawatan Sehan di rumah sakit, karena itu.. Appa bisa mengambil sisa gajiku.. setidaknya untuk sedikit membantu mengurangi beban appa dalam membayar biaya rumah sakit”

“Ne ? aniya, tidak perlu Sehun.. kau kan kemarin sudah memberikan setengah gajimu pada Appa, lagipula karena penggusurannya tidak jadi dilaksanakan, ayah bisa menggunakan uang yang awalnya untuk menyewa apartemen itu, untuk membayar biaya perawatan Sehan”

“Tapi.. kurasa uang itu hanya cukup untuk membayar biaya perawatan Sehan selama sebulan ke depan saja Appa”

“Sudahlah Hun-na.. Simpan saja uangmu itu dulu ne, setelah ini.. appa juga akan berusaha untuk mencari pekerjaan lagi, nanti kalau appa memang benar-benar membutuhkan bantuanmu, pasti appa akan mengatakannya kepadamu”

“Hah.. baiklah, tapi appa harus janji.. untuk tidak boleh menyembunyikan masalah appa sendirian arro”

“Iya Hun-na.. apa janji, ah matta.. apa kau sudah bertanya kepada gadis itu mengenai pembatalan penggusuran itu ?”

“Ne ? A..aniyo, aku belum menanyakan hal itu kepadanya, aku masih merasa takut.. untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi”

“Bukankah gadis itu juga mencintaimu, lalu.. apa lagi yang kau takutkan Hun-na ?”

“Justru karena aku tahu dia mencintaiku.. aku menjadi takut.. kalau dia sampai melakukan sesuatu yang mungkin dapat menyakiti dirinya sendiri”

“Dia akan baik-baik saja Hun-na.. walau bagaimana pun juga, seorang ayah tidak mungkin menyakiti puterinya sendiri kan ?” ucap Tuan Jiho tersenyum hangat.

“Ne, appa benar, sepertinya rasa khawatirku ini memang terlalu berlebihan”

Drrrt…drrrt..

“Eung ?” Sehun meraih ponsel yang ada di dalam kantung celananya, dan sontak matanya membulat dengan sempurna saat melihat terdapat sebuah pesan yang dikirimkan dari seseorang yang membuat dirinya langsung terbangun dari posisi duduknya.

“Hun-na, ada apa eoh ?”

“Cla..claire.. dia mengirimi ku pesan”

“Benarkah ? Lalu apa yang di katakan oleh gadis itu ? apakah dia menyebutkan soal masalah penggusuran itu ?’

Sehun menggelengkan kepalanya, lalu mengarahkan pandangannya kepada sang ayah,

“Claire.. memintaku untuk menemuinya besok..”

“Ah.. mungkin.. dia ingin membicarakan masalah pembatalan penggusuran itu kepadamu Hun-na”

“Ne, mungkin saja” gumam Sehun pelan sambil menundukan wajahnya dengan segala perasaan yang begitu berkecamuk dihatinya.

 

“Sehun.. ini Claire.. bisakah sepulang dari kuliah besok.. kita bertemu di taman yang ada di dekat kampus, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, kau harus datang jam 1 siang ne, jangan terlambat atau aku akan marah, arrachi !”

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “The Name I Love Chap 17 part A

  1. Woaaaa baru baca skrang padahal uda lama update ny
    Haisss masalah ny blum kelar juga d chap yg ini, kasihan sehun claire, next chap kyk ny sedih huhu
    D tunggu next chap ny, hwaiting ^^

    • kamu masih setia aja bacain ff aku.. haha.. makasih banyak yah.. ini aku lagi berusaha lanjutin kok mumpung libur, soalnya aku udah mulai kerja sekarang -_-” jadi agak susah nyari waktu untuk ngelanjutin ff.. makasih yah sekali lagi.. :* 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s